(Business Lounge Journal – Human Resources)

Siapakah yang bertanggung jawab untuk memastikan perusahaan dapat beradaptasi atas perubahan yang terus terjadi dengan begitu cepat? Hal ini tidak dapat hanya dilakukan secara perorangan, tidak juga hanya menjadi tanggung jawab kelompok tertentu, melainkan membutuhkan sebuah kekompakan dari seluruh tim, sehingga organisasi pun akan menjadi begitu ‘cair’ untuk mengikuti perkembangan yang ada. Kita sudah membahas 8 langkah yang diajukan oleh John P Kotter. (Baca: Kotter’s 8 Step Change Model – Lebih Dalam dengan Change Management). Hal yang paling mendasar untuk membangkitkan sebuah urgensi ada di tangan jajaran top management. Itulah sebabnya Kotter meletakkan poin ini sebagai yang pertama dalam 8 langkah yang dicetuskannya. Namun demikian, hal ini pun tidak dapat diciptakan hanya dengan membalikkan telapak tangan. Dibutuhkan sebuah periode untuk terus menerus membangkitkan awareness dengan sebuah ‘gong’ yang mengawali dan terus berlanjut dengan berbagai campaign kreatif yang menarik perhatian seluruh karyawan. Hal ini tentu saja harus dilakukan sesuai dengan warna mereka yang menjadi sasaran. Jika Anda berhadapan dengan para millennial maka, Anda tidak dapat menerapkan cara-cara ‘penyuluhan’ yang sering kali Nampak membosankan, namun menyertakan teknologi akan membantu Anda menyampaikan pesan yang Anda inginkan.

Membangun Sebuah Budaya sebagai Sebuah Proses

Saya ingat bagaimana untuk menciptakan sebuah budaya menjawab telepon pada sebuah perusahaan perbankan nasional saja, membutuhkan waktu selama 2 tahun penuh hingga setiap karyawan (baik mereka yang front office dan back office) dapat dengan luwes menyebutkan nama ketika menjawab telepon masuk. Kelihatannya seperti sebuah yang sederhana, namun pada kenyataannya membutuhkan sebuah kerja keras dan kekonsistenan untuk dapat menciptakan budaya. Sebab pada waktu itu tidak semua merasa bahwa menjawab telepon dengan standar yang sama adalah sebuah kebutuhan yang penting. Hal yang paling menjadi kendala ketika mereka yang berada di back office dengan terus terang mengatakan bahwa mereka merasa kikuk ketika harus menyampaikan salam yang telah didesain sedemikian rupa sebab mereka tahu yang menghubungi mereka adalah rekan-rekan kerja mereka sendiri.

Siapa yang Harus Memulai?

Dimulai dari jajaran top management dan terus berlanjut sampai ke seluruh karyawan. Namun demikian tetap dibutuhkan sebuah tim ad hoc untuk dapat membangkitkan sebuah urgensi untuk mau berubah.

Selama beberapa dekade, Dr. Kotter beberapa tokoh lainnya melakukan riset yang menunjukkan bahwa sebagian besar upaya melakukan transformasi telah menemui kegagalan oleh karena tidak terciptanya rasa urgensi secara bekelanjutan. Faktor ini dapat dipastikan terus menerus ditemukan secara konsisten dibalik kegagalan sebuah transformasi.

Karena itu, berbicara tentang membangun sebuah urgensi adalah berbicara tentang sebuah kesempatan yang bisa saja terbuka pada hari ini namun mungkin saja dapat tertutup pada keesokan pagi. Mereka yang memiliki kesadaran yang sama akan lebih mudah untuk berkolaborasi, lebih mudah untuk disatukan, dan dengan mudah juga untuk tetap konsisten bergerak ke arah yang sama.

Karena itu buatlah program untuk membangkitkan urgensi dengan mengaitkan keseharian yang ada dengan bagaimana dapat menjadi fleksibel serta dengan mudah dapat berubah menuju sebuah perkembangan yang lebih baik. Siapkan berbagai campaign tools Anda dan mulailah membentuk tim ad hock yang berkualitas.

Ruth Berliana/VMN/BL/Partner in Management and Technology Services, Vibiz Consulting Group

Leave a Reply

Your email address will not be published.