(Business Lounge Journal) Anda bekerja? Apakah sering duduk lama di depan komputer Anda? Apakah hari-hari Anda di kantor lebih banyak duduk? Ataukah datang ke kantor dengan menyetir mobil sendiri menempuh kemacetan berjam-jam? Berapa jamkah Anda duduk saat bekerja? Berapa lama Anda duduk dalam sehari? Pertanyaan-pertanyaan ini penting untuk melihat seberapa lama Anda duduk dalam keseharian Anda. Sejak tahun 2002 WHO sudah mulai memberikan warning bahayanya terlalu banyak duduk.

Orang yang lebih banyak duduk dalam kesehariannya dikatakan memiliki sedentary lifestyle alias “mager” atau malas gerak, moving less and sitting more. Hal ini memicu untuk timbulnya “sitting disease” penyakit akibat kebanyakan duduk. James Levine, MD, penulis Move a Little, Lose a Lot mengatakan bahwa hal yang paling aneh di dunia adalah manusia yang punya kaki untuk berjalan tapi menghabiskan sepanjang hari hanya meringkuk di kursi. Ini adalah bentuk jebakan fisik. Saya setuju dengan hal ini. Bagi mereka yang bekerja di kantor, jebakan ini sangat sulit dihindari. Terlebih bila pekerjaan sangat padat dan semua harus dikerjakan di komputer. Sampai-sampai makanpun bawa lunch box dan tidak bergerak dari kursi. Sebagai orang yang juga bekerja kantor, setiap 1-2 jam sekali saya usahakan bergerak, bangkit dari tempat duduk untuk sekedar mengambil minum atau ke toilet dan berjalan kaki sebelum dan sesudah bekerja, bahkan kalau bisa jam makan siangpun ambil waktu berjalan kaki sebentar.

Apakah hal ini hanya menimpa orang bekerja? Tentu tidak. Sedentary lifestyle juga adalah gaya hidup sebagian orang lanjut usia. Bahkan anak-anak pun dapat kurang aktif karena jam sekolah yang panjang dan menimbulkan risiko untuk kesehatan mereka di masa depan. Berbeda dengan anak-anak jaman dulu yang hanya sekolah sampai pukul 12.00 dan aktivitas fisiknya banyak. Belum lagi gadget dan keaktfian di sosial media membuat orang lebih banyak diam di tempat.

Berikut ini risiko penyakit  yang ditimbulkan oleh sedentary lifestyle yang bahkan dapat menimbulkan kematian.

  1. Penyakit kardiovaskular
  2. Diabetes
  3. Obesitas
  4. Hiperlipidemia
  5. Meningkatkan risiko kanker usus besar
  6. Tekanan darah tinggi
  7. Osteoporosis
  8. Nyeri lutut dan persendian
  9. Depresi dan kecemasan

Semua sitting disease ini mungkin terjadi pada siapa saja.

Namun demikian, setiap orang dapat mencari caranya sendiri untuk dapat lebih banyak bergerak walau tetap harus duduk di belakang meja dalam keseharian pekerjaan. Tidak ada alasan untuk tidak bergerak, bukan?

Berikut ini contoh hal-hal yang dapat dilakukan:

  • Lakukan stretching setiap kali Anda bangun tidur.
  • Lari atau jalan pagi 30 menit setiap hari atau sejauh 3 kilometer.
  • Bergerak setiap dua jam bangkit dari kursi, melakukan stretching punggung dan kaki lalu berjalanlah paling tidak 5-10 menit.
  • Memindahkan work station ke lokasi yang lain di kantor.
  • Pulang pergi ke tempat kerja dengan berjalan kaki, parkir mobil di tempat yang agak jauh.
  • Memilih bersepeda atau naik kendaraan umum sebagai alternatif ke kantor.
  • Makan siang di luar kantor misalkan di mall yang membutuhkan bergerak dan berjalan.
  • Memilih naik tangga ketimbang naik lift.
  • Cobalah berolahraga sepulang kerja.

Intinya adalah BERGERAK! Camkan di benak kita bahwa bergerak itu sehat. Bahkan bila terpaksa melakukan perjalanan jauh berjam-jam dengan mobil misalnya, usahakan pula bisa berhenti di rest area setiap dua jam sekali.

Sekali lagi, tidak ada alasan untuk tidak bergerak. Jangan beralasan tidak ada waktu. Kita harus berperang melawan penyakit dengan mengambil langkah-langkah untuk menjadi lebih aktif secara fisik.

Salam sehat selalu!

dr. Vera Herlina,S.E.,M.M/VMN/BL/Partner of Management & Technology Services, Vibiz Consulting

 

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.