Dr. Niko Azhari Hidayat, SpBTKV(K)VE FIHA adalah founder dari Varises Indonesia App. Profesinya sebagai seorang dokter Bedah Toraks Kardiak & Vaskular (BTKV) sekaligus staf pengajar di sebuah perguruan tinggi menjadi sebuah paket lengkap yang membawanya menapaki dunia medical entrepreneurship. Naluri yang selalu ingin menolong pasien menggugah pria lulusan UMC Utrecht The Netherlands ini untuk mengembangkan aplikasi digital di bidang kesehatan. Tidka kebetulan ia mengenal AETP (The Asia Entrepreneurship Training Program) yang membantunya untuk mengembangkan aplikasi-aplikasinya.

Berikut interview singkat dengan dr. Niko Azhari Hidayat, SpBTKV(K)VE FIHA.

(*Artikel ini adalah kerjasama antara Business Lounge Journal dan AETP (The Asia Entrepreneurship Training Program)

BL: Business Lounge Journal
NA: dr. Niko Azhari Hidayat, SpBTKV(K)VE FIHA

 

BL: Bisa ceritakan tentang latar belakang Anda?

NA: Saya seorang dokter Bedah Toraks Kardiak & Vaskular (BTKV) RS Universitas Airlangga dan saya juga staf dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya. Saya Kuliah S1 di FK Universitas Udayana, Bali (1998 – 2004), melanjutkan spesialisasi bedah TKV-FK Universitas Airlangga (2007-2013), selanjutnya saya menjalani Clinical Fellowship Vascular & EndoVascular Surgery di Vascular Surgery Departement di UMC Utrecht The Netherlands (2014-2015).
Saya adalah Founder-Conceptor Varises Indonesia, AVShunt Indonesia, KakiDiabet Indonesia & Vascular Indonesia.

BL: Apakah bisa dijelaskan tentang produk-produk tersebut? Apakah bisa dijelaskan megenai Varises Indonesia, AVShunt Indonesia, KakiDiabet Indonesia & Vascular Indonesia?

NA: Produk-produk pengembangan Digital Health yang merupakan teknologi aplikasi informasi, edukasi, komunikasi & konsultasi kesehatan khusus tentang Vaskular (Pembuluh Darah) secara khusus Problema Varises, untuk Apps Varises Indonesia. Varises Indonesia merupakan Smart Health Apps yang fokus pada problema varises tungkai (Varicose Vein). Diestimasikan 44juta orang dewasa di Indonesia terpapar faktor resiko penyakit varises tungkai. Rendahnya awareness masyarakat dan masih lemahnya keterampilan klinis medis primer dalam penanganan Penyakit Varises menjadi faktor penting timbulnya ide Smart Health Initiative Varises Indonesia ini.
Jadi tujuan brand tersebut memberikan impact pada akses dan pelayanan kesehatan masyarakat, dengan Digital Health menjadi kunci kemudahan dalam mendapatkan impact yang nyata. Blue Ocean Strategy Varises Indonesia selain pada masyarakat yang memerlukan informasi, edukasi, konsultasi maupun penanganan klinis Varises Tungkai, juga diharapkan Varises Indonesia apps mampu meng-upgrade kemampuan klinis dokter dan dokter spesialis di Indonesia dalam menyelenggarakan pelayanan yang paripurna seiring dengan latar belakang akademik yang kuat lahirnya Varises Indonesia di rahim Airlangga University Hospital.

BL: Apa yang menginspirasikan Anda untuk menciptakan aplikasi digital di bidang kesehatan?

NA: Pasien-pasien saya adalah inspirasi utama saya. Kerisauan mereka untuk mendapatkan kemudahan akses kesehatan dan pelayanan kesehatan yang optimal telah mendorong saya sebagai insan kesehatan sekaligus akademik membangun karya Kesehatan Digital yang nyata manfaatnya bagi masyarakat, khususnya pasien-pasien di Indonesia.

BL: Berarti saat ini Anda juga sudah memasuki dunia entrepreneur ya? Apa yang membuat Anda berani mengambil keputusan tersebut?

NA: Memiliki jiwa entrepreneur merupakan hal yang tidak dapat dihindari pada era sekarang, meskipun sama sekali tidak sederhana dalam mengembangkan entrepreneurship bidang kesehatan. Bagaimana tidak, saya harus membangun usaha jasa kesehatan di antara etika moral dan nurani kemanusiaan dalam menolong pasien/klien, konsumen, maupun user (pengguna).

Terus terang saya memulainya secara otodidak, dari sedikit demi sedikit, dari kecil hingga berjumlah cukup, menciptakan topik yang sebelumnya tidak ada dalam buku teks kedokteran (tentang medical entrepreneurship) bahkan kurikulum baku ilmu kedokteran nasional, hingga dengan menginisiasi whatsapp group Medicopreneur Indonesia yang perlahan demi perlahan namun pasti, mencoba mendidik juga membagikan berbagai pengalaman dalam langkah-langkah yang telah saya jalani bersama aplikasi-aplikasi kesehatan yang saya bangun.

BL: Sekarang bagaimana Anda merencanakan untuk memasarkan produknya?

NA: “Kegagalan dalam merencanakan merupakan merencanakan kegagalan”, jadi saya pilih merencanakan keberhasilan program saya. Meskipun berbekal insting sederhana dan otodidak, saya pun memberanikan diri untuk memulainya. Pada awal saya berhadapan dengan tembok penyulit berupa dogma “Kalo jadi dokter jangan jadi pedagang, kalo jadi pedagang jangan jadi dokter”, bersyukur perlahan teratasi dengan baik bahkan dengan elegan dan berkelas.

BL: Bagaimana maksud elegan dan berkelas, Dok?

NA: Konkritnya adalah melalui metode edukasi & teknologi, oleh karena kami berlatar belakang profesi dokter dan juga dosen di RS Universitas Airlangga, jadi nuansa akademiknya demikian kental. Ketika seorang entrepreneur mempersembahkan brand-nya berbasis Education, Training & Workshop apalagi disertifikasi oleh universitas yang mendukung pengembangan karir dan kompetensi, alhasil tercapai keeleganan yang dimaksud. Berkelas, oleh karena dengan memanfaatkan ke-hype-an digitalisasi kesehatan sekaligus juga menjalankan program pemerintah dalam Sustainable Development Goals yang salah satunya bidang kesehatan Smart Health Initiative, maka menjadi hal yang berkelas dikembangkan di RS Universitas Airlangga, yang menggalakkan Smart Hospital melalui jalur Asosiasi RS Perguruan Tinggi Negeri (INASUHA:Indonesian Society University Association) yang diketuai Prof. Dr. Nasronudin dr., Sp.PD-KPTI., FINASIM.

BL: Bagaimana Dokter dapat mengenal program AETP?

NA: AETP seperti layaknya suatu bintang jatuh, yang setelah kita mengucapkan wish kita dalam hati, bakal datang anugerah yang memajukan cara kita berstrategi dalam entrepreneurship bidang kesehatan yang memiliki Social & Scientific Impact. Mendapatkan info serta dorongan dari Lembaga Pengembangan Bisnis & Inkubasi (LPBI) Universitas Airlangga, memacu saya untuk semakin aktif & dinamis dalam berkarya berkolaborasi sebagai perwujudan pengabdian pada negeri tercinta Indonesia.

BL: Bagaimana program AETP menolong Dokter?

NA: Sebagian besar startup memerlukan percepatan (akselerasi), tidak sesederhana seperti pertolongan atau uluran tangan sederhana belaka. Kami startup seharusnya dalam posisi siap untuk berlari sebisa mungkin dengan kencang dan selamat, bukan dalam posisi “butuh” pertolongan yang hanya untuk berdiri saja not yet running.

BL: Menurut Anda, apa yang perlu seorang entrepreneur lakukan agar berhasil?

NA: Untuk startup-entrepreneur yang lebih diharapkan dan lebih bernilai adalah ke- sustain-an, karena keberhasilan merupakan hal yang terlalu abstrak untuk dijadikan tujuan maupun target akhir, karena sifatnya subyektif bukan obyektif.

Business Lounge Journal/VMN/BLJ

Leave a Reply

Your email address will not be published.