Museum MACAN segera Tampilkan Xu Bing: Thought and Method

(Business Lounge Journal – Event)

Museum MACAN bekerja sama dengan UCCA Center for Contemporary Art, Beijing, Tiongkok sedang bersiap untuk sebuah perhelatan besar. Xu Bing: Thought and Method yang adalah sebuah pameran tunggal skala besar yang menampilkan karya-karya dari perupa kontemporer kenamaan asal Tiongkok akan berlangsung dari 31 Agustus 2019 – 12 Januari 2020.

Pameran ini akan menjadi pameran retrospektif Xu Bing terbesar dan pertama di Asia Tenggara, juga yang pertama di Indonesia. Xu Bing akan menyuguhkan lebih dari 60 karyanya selama 40 hari. Karya-karya tersebut melintasi berbagai medium – termasuk drawing, seni grafis, instalasi, film, dan materi arsip. Pada Oktober 2018, pameran ini untuk pertama kalinya diadakan di UCCA Center for Contemporary Art, Beijing, Tiongkok.

Xu Bing, yang lahir di Chongqing, Tiongkok, pada 1955 dan menjadi salah satu relawan pemuda yang turun ke daerah pedesaan pada masa Revolusi Kebudayaan Tiongkok (1970-an). Pengalaman ini memengaruhi cara Xu Bing melihat bagaimana bahasa dipakai sebagai salah satu alat politik. Ia lulus dari Central Academy of Fine Arts (CAFA) di Beijing pada 1981, kemudian bekerja di sana sebagai guru. Di awal 1990-an, ia beremigrasi ke New York, Amerika Serikat. Kepindahan ini membentuk fondasi perjalanan Xu Bing sebagai perupa.

Di awal kariernya, Xu Bing mengeksplorasi dimensi budaya, bahasa dan sistem pengetahuan tradisional. Saat tinggal di New York, ia mulai mengombinasikan elemen budaya Barat dan elemen tradisional Tiongkok, juga membahas isu antar budaya. Sejak 2000-an, ia banyak membahas topik-topik globalisasi, tindakan memata-matai dan berbagai problem industri.

Ia kini tinggal dan berkarya di Beijing dan New York. Pada 1999, ia dianugerahi penghargaan bergengsi untuk warganegara Amerika, MacArthur Fellowship. Pada 2015, Xu Bing mendapat Medal of Arts dari Art in Embassies (AIE), bagian dari Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat. Karya Xu Bing telah dikoleksi dan dipamerkan di berbagai museum dan institusi seni ternama, termasuk Metropolitan Museum of Art, Museum of Modern Art, dan Solomon R. Guggenheim di New York, juga British Museum di London.

Sesuai dengan judulnya, Xu Bing: Thought and Method menampilkan perjalanan karier Xu Bing secara menyeluruh, serta metode dan motivasi di balik gagasan artistiknya. Beberapa karya yang akan ditampilkan meliputi:

  • Book from the Sky (1987-1991) adalah karya instalasi masif yang dibentuk dari banyak gulungan kertas yang tingginya mencapai hampir tiga meter dan menjuntai dari langit-langit hingga lantai. Di dalamnya tertulis ribuan huruf rekaan Xu Bing yang terlihat seperti karakter Mandarin, namun tidak memiliki arti khusus. Xu Bing sengaja menantang sistem pengetahuan umum lewat karakter huruf-huruf buatannya ini.
  • Ghosts Pounding the Wall (1990-1991) adalah instalasi berukuran 15 x 32 meter, dan merupakan gambaran dari Tembok Besar Tiongkok.
  • Square Word Calligraphy (1994-kini), sebuah sistem bahasa ciptaan Xu Bing yang lahir dari “perkawinan” huruf Latin dan karakter yang menyerupai kaligrafi Tiongkok.
  • Honor and Splendor (2004), instalasi berbentuk karpet motif loreng harimau, dibuat dari 660.000 batang rokok.
  • Book from the Ground (2003-kini) adalah sebuah proyek yang menggunakan simbol-simbol universal, termasuk tanda-tanda yang sering kita lihat di ruang publik dan kumpulan emoji, untuk membentuk sebuah cerita.
  • Dragonfly Eyes (2017) adalah sebuah film panjang yang dirangkai dari kompilasi rekaman kamera CCTV di Tiongkok. Sejak 2015, klip dari kamera pengawas di Tiongkok dapat diakses bebas oleh masyarakat.

Xu Bing, dalam wawancara dengan Museum MACAN, berkata: “Untuk menjadi perupa yang baik, seseorang mesti menjadi pemikir yang baik. Tetapi, jika perupa tersebut hanya memiliki pemikiran atau filosofi yang baik, ia dapat menjadi filsuf yang hebat, namun namanya tidak akan pernah tercatat dalam sejarah dunia seni. Karena itu, seorang perupa mesti mempunyai sebuah cara artistik untuk mempresentasikan idenya, sebuah metode yang lepas dari konsep budaya yang normatif.”

Sebagai perupa, Xu Bing mendapat reputasi globalnya lewat metode unik dalam penyajian isu yang merefleksikan kehidupan kontemporer, eksplorasi berbagai medium – dari yang tradisional seperti tinta Cina hingga yang eksperimental seperti film dan kreativitasnya dengan bahasa. Lewat karya-karyanya yang mendunia, ia telah menjadi simbol seni kontemporer Tiongkok di mata publik global. Pada 1999, ia menerima MacArthur Fellowship, atau sering disebut “Hibah Genius”, penghargaan bergengsi untuk warganegara Amerika Serikat yang telah berkontribusi besar di bidangnya.

Business Lounge Journal/VMN/Museum MACAN

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.