(Business Lounge Journal – General Management)

Kesempatan wawancara dengan Triawan Munaf, Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) membuka wawasan saya besarnya potensi ekonomi kreatif untuk pembangunan ekonomi Indonesia di masa depan. Waktu saya bertanya tentang definisi ekonomi kreatif maka Triawan dengan semangat menyatakan “hal ini berbicara tentang value added (nilai tambah)!” katanya. Ia mengambil contoh tentang kopi, kalau tanpa nilai tambah maka harga kopi tidaklah mahal dan mungkin kurang menarik untuk bisnis. Namun ketika kopi menjadi sebuah pengalaman yang menarik saat meminumnya, membuat harganya bisa sepuluh kali lipat. Triawan memang menyediakan tempat khusus untuk meracik kopi di kantornya dan nampak berbagai merek kopi anak bangsa yang sudah cukup dikenal masyarakat Indonesia.

Nilai tambah inilah yang diusahakan dalam ekonomi kreatif di Indonesia, nilai tambah perlu muncul pada semua sektor bisnis yang ada. Mungkin hal ini bukanlah hal yang baru, nilai tambahlah yang membuat sebuah bisnis menjadi hidup dan berkembang. Tidak ada nilai tambah, ya pasti tidak ada pelanggan, semakin besar nilai tambahnya semakin besar kemungkinan untuk mendapatkan keuntungan.

Nah, nilai tambah tidak pernah terjadi kalau tidak ada kreatifitas yang muncul, kembali ke produk kopi tadi, kreatifitas yang muncul bermacam-macam. Cara penyajian kopi mungkin bukanlah komoditas yang bisa dijual sebelumnya, namun sekarang sudah menjadi nilai tambah untuk menjual kopi dengan harga lebih mahal. Saya pernah minum kopi di tepi pantai Sanur dengan bentuk kios saja, namun tidak berhenti wisatawan manca negara yang menikmatinya, salah satu alasannya adalah cara penyajiannya yang istimewa. Sekarang ini petani kopi di berbagai daerah mulai menyadari pentingnya kemasan dalam menjual biji kopi disertai dengan story line yang menarik membuat pembeli merasa harga yang berkali lipat memang layak. Saya pernah ke Pasuruan di Jawa Timur disana ada kopi Kapitan yang sudah mulai terkenal, Bupati Pasuruan kreatif menyajikannya dengan kemasan yang menarik dengan suasana coffee shop bergaya millennia.

Kekayaan Indonesia yang sedemikian besar bisa menghasilkan value added yang mengalirkan devisa bagi negara. Triawan mengungkapkan kreatifitas diperlukan sekali untuk mendulang nilai ekonomis dari potensi Indonesia ini. Dua hal yang dilakukan oleh Bekraf adalah menularkan kreatifitas melalui pelatihan-pelatihan tentang berbagai bentuk pengembangan bisnis dan menyiapkan ekosistemnya melalui dukungan kebijakan yang membantu para pebisnis.

Seratus tahun setelah Indonesia merdeka yaitu tahun 2045, prediksi menjadi negara maju ke empat di dunia sudah menjadi hasil kajian para konsultan bisnis dunia, kita perlu kreativitas untuk menjangkaunya. Masih ada 25 tahun ke depan dan tuntutan persaingan global adalah kreatifitas anak bangsa, perlu ada ketekunan mengerjakan apa yang ada dengan belajar lebih baik, lebih baik, lebih baik lagi.

Fadjar Ari DewantoFadjar Ari Dewanto/VMN/BL/Partner of Business Advisory Services, Vibiz Consulting

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.