Pentingnya Exit Interview dalam Mengantisipasi Turnover

(Business Lounge Journal – Human Resources)

Saat ini, tingginya angka turnover tidak dapat serta merta dikatakan sebagai sebuah kegagalan perusahaan, walaupun itu bisa saja terjadi. Namun, seperti sudah kita bahas berkali-kali bagaimana karkateristik generasi saat ini yang cukup unik telah membuat mereka memiliki ‘sejuta’ alasan tersendiri untuk menjadi ‘job-hopper’. Namun demikian, sebuah analisa tetap penting untuk dilakukan guna mengetahui apa yang menjadi alasan tingginya angka turnover. Hal ini dapat diperoleh dari keterangan-keterangan yang didapat saat exit interview dilakukan. Tetapi apakah dengan demikian kita dapat mempercayai exit interview yang telah dilakukan?

Berikut adalah beberapa kesalahan yang kerap kali dilakukan terkait hasil exit interview:

  1. Perusahaan berupaya melakukan antisipasi untuk menurunkan angka turnover namun berdasarkan data internal yang belum dapat diyakini kebenarannya.
  2. Pihak management melakukan survei namun hanya secara kuantitatif sederhana. Penting untuk menggunakan pendekatan metode campuran dan melemparkan pertanyaan secara terbuka dengan menggunakan kata “mengapa”, untuk menangkap semua alasan karyawan mengundurkan diri.
  3. Mengandalkan benchmarks dan surveys eksternal juga merupakan kekeliruan yang kerap kali terjadi. Setiap organisasi sesungguhnya memiliki keunikan dalam alasan karyawan mengajukan resign, karena itu penting bagi Anda untuk dapat membuat si karyawan menjawab pertanyaan dalam exit interview dengan sebenar-benarnya.

Dalam berbagai exit interview ada beberapa alasan yang sering kali diungkapkan oleh mereka yang mengajukan pengunduran diri.

  1. Career development. Mereka mengajukan resign oleh karena mendapatkan pekerjaan baru dengan posisi yang lebih tinggi atau mungkin lebih menantang para perusahaan yang lain.
  2. Work-Life Balance. Karyawan mengajukan resign oleh karena beban pekerjaan yang menyita waktu pribadi mereka.
  3. Manager Behavior. Adanya ketidakcocokan sesame tim atau pun dengan atasan.
  4. Compensation & Benefits. Adanya rasa ketidaksesuaian dengan unsur-unsur kompensasi yang selama ini diterima sehingga ketika ada kesempatan bagi karyawan untuk mendapatkan pekerjaan dengan kompensasi yang lebih baik, maka karyawan pun segera mengajukan pengunduran diri.
  5. Work Environment, serta beberapa alasan pribadi lainnya.

Jika kita melihat beberapa alasan di atas, maka pada dasarnya pihak management dapat saja melakukan antisipasi sebelum sebuah keputusan pengunduran diri dilontarkan, kecuali bila sang karyawan memutuskan untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Sebagai contoh, ketika alasan yang kerap kali muncul adalah work-life balance, maka management penting untuk segera bertindak memberikan jalan keluar bagi seluruh karyawannya dalam menyeimbangkan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi karyawan terutama apabila itu terkait dengan keluarga karyawan. Berbagai strategi serta jalan keluar dari segala beban pekerjaan haruslah segera dicarikan jalan keluarnya. Jika tidak demikian, maka pengunduran diri, dapat terus terjadi.

Secara general dapat dikatakan bahwa resignation dapat terjadi ketika apa yang menjadi harapan karyawan pada kenyataannya tidak dapat terpenuhi, oleh karena itu karyawan mencari pemenuhan harapannya pada perusahaan lainnya. Lalu bagaimanakah management dapat memperoleh keterangan? Exit interview dengan pertanyaan-pertanyaan terbuka akan menjadi salah satu cara untuk mengetahui seberapa harapan karyawan dianggap tidak terpenuhi dan bagaimana management dapat mengakomodirnya.

ruth_revisiRuth Berliana/VMN/BL/Partner in Management and Technology Services, Vibiz Consulting Group

Leave a Reply

Your email address will not be published.