(Business Lounge Journal – Human Resources)

Saya berbincang dengan beberapa pemilik bisnis yang memutuskan untuk merombak area kerjanya guna menyesuaikan dengan budaya kerja yang ada saat ini. Memang telah terjadi pergeseran budaya kerja mulai dari generasi baby boomers, generasi x, generasi y, dan generasi z. Seperti sudah pernah kita bahas bahwa era ini sangat unik, era dengan empat generasi yang bekerja bersama-sama. (Baca: Empat Generasi Satu Dunia)

Lalu siapakah yang paling berperan untuk menjembatani ke-4 generasi ini? Tentu saja pihak management. Jika tidak disikapi dengan bijak, maka Anda dapat saja berhadapan dengan masalah turn over karyawan yang kelak akan menyusahkan bisnis Anda. Tidak dapat dipungkiri bahwa budaya kerja saat ini memang sudah mengalami perubahan.

Berkurangnya Aspek Sosial dalam Lingkungan Kerja

Perkembangan teknologi memang telah ‘mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat’, demikian biasanya kita berujar bukan? Apa yang dilakukan ketika sekumpulan milenial berkumpul bersama-sama? Tanpa komando masing-masing akan sibuk dengan gadgetnya. Mulai dari update status, mengintip berapa orang yang sudah juga mengintip status mereka, juga termasuk ‘kepo-in’ status teman lainnya. Ya, teknologi kini telah menjadi ‘setengah nyawa’ para generasi muda.

Teknologi yang dikembangkan untuk memudahkan kita dalam berkomunikasi, pada kenyataannya, juga dapat berdampak memutuskan kita di setiap aspek kehidupan, termasuk pekerjaan. Atasan akan memilih menggunakan teks untuk “berbicara” daripada menelepon atau berjalan ke meja timnya dan ini mengurangi interaksi sosial yang bermakna setiap harinya.

Bagaimanapun, manusia adalah mahluk sosial, ketika seorang karyawan tidak merasa memiliki hubungan sosial dengan rekan kerja atau tempat kerjanya, maka perasaan tertekan, kesendirian, sering kali membangkitkan pemikiran negatif baik kepada management, perusahaan, lingkungan sekeliling yang jelas akan dapat mempengaruhi produktivitas kerja bahkan kesehatan karyawan itu sendiri. Pada akhirnya si karyawan pun memiliki kecenderungan untuk resign.

Perkembangan Teknologi dalam SDM

Jangan lagi berpikir bahwa di dunia SDM, semua dilakukan dengan sangat manual. Mulai dari mencari tenaga kerja, melakukan rekrutmen, pelatihan, penggajian, dan seterusnya. Tidak! Zaman telah berubah, bukan hanya perusahaan yang bergerak di bidang teknologi yang akan mengikutsertakan teknologi di dalam hubungan manusia, namun Anda akan membutuhkan teknologi untuk dapat mendukung pemberdayaan manusia. Karena itu, penting bagi perusahaan untuk memiliki cara mengintegrasikan teknologi untuk memfasilitasi semua kebutuhan karyawan. Tidak hanya berbicara tentang otomasi, tetapi ini tentang mendorong produktivitas dan inovasi. Ingat, teknologi sebagai support hubungan antar karyawan bukan menggantikan fungsi karyawan. Berbagai aplikasi teknologi hanya berfungsi sebagai bantuan untuk para karyawan dapat semakin ‘engage’ dengan perusahaan dan lingkungannya.

Bukan lagi budaya ‘engage’

Saya ingat benar masa-masa bagaimana perusahaan berupaya sedemikian rupa untuk menegakkan engagement dari para karyawan. Berhasilkah? Rasa-rasanya perubahan generasi memang membawa sebuah fenomena yang baru bagi perusahaan. Bagaimana upaya perusahaan untuk me-retain para milenial sering kali hanyalah bertepuk sebelah tangan. Karena itu penting untuk management dapat menerima kenyataan yang ada bagaimana warna generasi saat ini. Alih-alih berupaya mempertahankan mereka dengan berbagai cara untuk memanjakan mereka, bagaimana jika memicu mereka untuk dapat berprestasi semaksimal mungkin? Berikan kesempatan pada setiap karyawan untuk memiliki sebesar-besarnya peluang untuk dapat berprestasi. Ada sebuah kebiasaan pada masa lampau bagaimana seseorang akan sangat sulit untuk naik jenjang apabila bosnya masih terus ada pada kedudukan yang sama. Namun ketika bos resign, barulah ada kesempatan si anak buah naik jabatan. Jika Anda masih mempertahankan budaya ini, saya jamin perusahaan Anda akan ditinggalkan para milenial.

Milenial memegang kepemimpinan

Ini memang sudah masanya bagi kaum milenial memimpin perusahaan, sebab para gen z saja sudah mulai terlibat dalam dunia kerja. Ada sebuah perbedaan bagaimana para milenial memimpin yang lebih memilih menjadi coach daripada mengikuti gaya kepemimpinan tradisional dari para bos pendahulunya. Mereka lebih memilih untuk membangun kolaborasi di dunia kerja daripada kompetisi. Berbagai flesibiilitas pun diterapkan dalam dunia kerja.

Generasi Z mulai mengambil bagian di dunia kerja. Mereka dibesarkan di dunia teknologi dan membuat mereka lebih mandiri dari para milenial. Ketergantungan mereka yang tinggi pada teknologi untuk berkomunikasi dan berinteraksi, sering kali membuat mereka mengalami salah paham dan keliru dalam interaksi secara sosial. Tetapi mereka juga lebih termotivasi, optimis, dan berani berpendapat tentang ketidaksetaraan.

ruth_revisiRuth Berliana/VMN/BL/Partner in Management and Technology Services, Vibiz Consulting Group

Leave a Reply

Your email address will not be published.