Human Billboard Promosi Rasa Humanis

(Business Lounge Journal – Entrepreneurship)

Kecuali jika Anda sudah pernah melihatnya di negara Barat, kebanyakan dari warga Indonesia belum terbiasa dengan human billboard. Sejatinya, human billboard sendiri juga sebenarnya tidak jauh berbeda dengan billboard yang biasa kita jumpai, hanya dengan versi mini. Billboard ini tidak dipasang tetapi dipanggul oleh seseorang yang akan berjalan menyusuri trotoar yang ramai atau tempat-tempat yang biasa banyak tempat orang berkumpul.

Memiliki sejarah yang cukup panjang, human billboard telah tercetus sejak abad ke-19 di London, atau kemungkinan sejak tahun 1820-an. Metode human billboard tersebut pertama kali muncul di jalan-jalan di kota London dikarenakan masalah pajak papan reklame pada waktu itu terlampau tinggi dan akhirnya timbul ide untuk mengiklan dengan cara yang murah namun efisien. Cara ini sanggup untuk menarik perhatian di jalan-jalan di London yang kerap ramai dengan banyak pejalan kaki.

Menemukan human billboard pada sekarang ini, telah membawa suasana berbeda di tengah-tengah ‘hambarnya’ iklan yang sudah sangat biasa kita terima bahkan dalam 24 jam sehari, entah dari billboard, TV, gadget, dan berbagai macam perangkat maupun metode. Saat menonton Youtube saja, kita sudah disuguhi berbagai iklan di tengah-tengah tayangan. Terkadang rasanya kita seperti ‘dicekoki’ iklan. Tanpa kita sadari, iklan di era digital ini kurang mendapatkan sentuhan personal atau istilah lainnya menjadi kurang ‘humanis’.

Business Lounge Journal berbincang dengan Ferri Laksamana, CEO dan Founder dari HUBI (Human Billboard) yang mencetuskan ide untuk melakukan cara pengiklanan yang sama dan menghadirkannya di Jakarta.

BL: Business Lounge Journal
FL: Ferri Laksamana

FL: HUBI ini singkatan dari Human Billboard. Jadi kita mengeneralisasi, untuk memudahkan orang melafalkan nama Human Billboard, menjadi HUBI. Itu sejak 2018, sekitar bulan Oktober. Pada waktu kita berpikir, bahwa khususnya di Jakarta, juga di Indonesia, belum ada Human Billboard.

MJ: Bagaimana timbulnya ide tersebut?

FL: Muncul idenya ketika saya melihat iklan di motor.

MJ: Iklan yang biasa LED itu?

FL: Iya, yang di motor itu. Waktu itu, saya sedang berjalan dan saya berpikir bahwa semakin ke sini semakin banyak channel media untuk beriklan, khususnya target audience yang semakin banyak pilihan. Saya baru 5 tahun ada di bisnis periklanan dan kayaknya banyak hal-hal baru yang diterima oleh konsumen dan semakin banyak selain di media konvensional seperti TV, radio, dsb. Semakin ke sini semakin mengerucut.

Polarisasi untuk promosi itu semakin berbeda-beda, jadinya saya bikin sistem HUBI, tetapi saya cari walker-nya dengan bermitra. Mereka ini akan mendapatkan penghasilan tambahan. Saya ingat, saya mendirikan perusahaan ini di Jakarta dan itu eranya Pak Jokowi waktu jadi Gubernur DKI. Saya terbantu sekali, terutama soal perijinan yang cepat, soalnya saat itu Pak Jokowi sudah buat TPSP, Sehingga menjadi lebih singkat dan tidak bertele-tele. Saya terbantu sekali terutama soal perijinan. Sekarang juga setelahPak Jokowi jadi presiden, semakin ke sini, semakin peduli dengan start up, beliau pun sangat update. Dari situ saya termotivasi. Saya mendirikan HUBI, infrastruktur secara teknologi saya perbaiki, juga sosial media, dan website. Ya, ceruk pasarnya memang belum banyak sih, tapi mungkin lama kelamaan orang akan tahu cara promosi ini.

MJ: It’s growing. Bagaiman traction-nya Human Billboard, jika kita membandingkan Human Billboard dengan billboard yang ada di jalanan, billboard yang LED, dan yang ada di motor, atau yang lainnya?

FL: Setelah memulai perjalanan HUBI, kami juga menawarkan ke beberapa klien dan mengalami juga beberapa penolakan. Mengapa? Sebab, kita belum terbiasa dengan hal seperti ini, karena bagi klien ini bukan sesuatu yang menyenangkan. Kenapa? Pertama, menyangkut viewers. Kedua, masalah harga, mengingat saya ke klien itu membayar mitra dan membayar jasa orang itu ternyata tidak murah juga. Dalam satu hari, walker bekerja 6 jam. Selain itu, klien banyak melihat cakupan ini tidak luas, karena HUBI memiliki area dalam satu hari 3, adalah 3 area. Tetapi saya selalu memberikan edukasi bahwa yang penting adalah mereka yang melihat. Lihat, ada sisi kreatifnya, karena walker-nya memakai kostum, atau bisa juga dengan menari, ini sangat menarik. Jika dibandingkan dengan iklan di motor dan mobil, maka harga mereka akan lebih murah karena mereka hanya ditempel di motor dan dibawa, tetapi tidak menggunakan tenaga. Kalau HUBI membutuhkan tenaga, namun dapat bertemu lebih dekat dengan konsumen sehingga lebih cair. Ternyata dalam perjalanannya, para walker malah diajak selfie.

MJ : Ya, saya pernah lihat juga.

FJ: Ya dan itu kan di-upload di social media mereka. Sekarang ini, kita sudah memiliki aplikasi untuk melakukan tracking beberapa langkah yang sudah dilakukan, jarak berapa km, ke mana saja? Dengan aplikasi ini, maka akan ketahuan semuanya.

Akhirnya kami berpikir, saat ini kita harus tahu berapa orang yang melihat. Ternyata dalam perjalan, dalam jarak 2 km itu, hampir 4000 langkah, ada 1000 viewer. Contoh, kita sudah keliling di Surdirman, depan FX, di Tanah Abang, kita masuk ke pasar –pasar di daerah Tebet, Kampung Melayu.

MJ: Tetapi so far, di daerah Jakarta  ini yang menurut Anda daerah yang traction-nya paling kencang? Di mana?

FL: FX dan Tanah Abang, Ke depannya saya ingin menjangkau lebih luas, di tiap kota saya ingin ada.

Michael Judah Sumbayak adalah pengajar di Vibiz LearningCenter (VbLC) untuk entrepreneurship dan branding. Seorang penggemar jas dan kopi hitam. Follow instagram nya di @michaeljudahsumbek

Leave a Reply

Your email address will not be published.