Memahami Fakta Stunting di Indonesia

(Business Lounge Journal – Medicine)

Salah satu pembahasan yang menarik pada debat Cawapres yang berlangsung pada hari Minggu (17/3/19) pada tema kesehatan adalah tentang stunting. Istilah stunting mungkin kurang akrab di telinga kita, sinonimnya mungkin lebih familiar bagi kita. Pernah dengar istilah kerdil? Nah, stunting itu lebih dari sekedar kerdil atau bertubuh pendek.

Memang memprihatinkan bahwa masih banyak anak Indonesia yang mengalami stunting. Menurut data Pemantauan Status Gizi (PSG) 2017 menunjukkan prevalensi Balita stunting di Indonesia masih tinggi, yakni 29,6%, masih di atas batasan yang ditetapkan WHO (20%). Artinya dari 10 anak, 3 adalah penderita stunting sedangkan WHO meminta perbandingannya hanya 2:10.

Definisi

Sesuai dengan definisi dari Kemenkes, maka stunting adalah kondisi gagal pertumbuhan pada anak (pertumbuhan tubuh dan otak) akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama. Sehingga, anak lebih pendek dari anak normal seusianya dan memiliki keterlambatan dalam berpikir.

Sesuai dengan definisi di atas, jangan berpikir bertubuh pendek pastilah stunting. Belum tentu! Stunting, harus disertai gangguan pertumbuhan otak, gangguan kognitif. Berikut ini adalah beberapa penyebab terjadinya stunting:

1. Kekurangan gizi sejak janin dalam kandungan hingga 1000 hari kehidupan pertama
2. Rendahnya akses terhadap makanan bergizi
3. Rendahnya asupan vitamin dan mineral
4. Buruknya keragaman pangan dan sumber protein hewani.
5. Faktor ibu dan pola asuh yang kurang baik terutama pada perilaku dan praktik pemberian makan kepada anak
6. Ibu yang masa remajanya kurang nutrisi, bahkan di masa kehamilan, dan laktasi.
7. Infeksi pada ibu
8. Kehamilan remaja (usia dini)
9. Gangguan mental pada ibu
10. Jarak kelahiran anak yang pendek
11. Hipertensi.
12. Rendahnya akses terhadap pelayanan kesehatan termasuk akses sanitasi dan air bersih
13. Faktor genetik

Hasil Riskesdas 2013 tentang konsumsi makanan ibu hamil dan balita tahun 2016-2017 menunjukkan bahwa di Indonesia 1 dari 5 ibu hamil kurang gizi, 7 dari 10 ibu hamil kurang kalori dan protein, 7 dari 10 Balita kurang kalori, serta 5 dari 10 Balita kurang protein.

Kenali Tanda dan Gejala Stunting

Ibu harus diedukasi sehingga dapat mengenali gejala stunting sedini mungkin. Berikut ini beberapa tanda dan gejala stunting yang bisa diperhatikan:

  • Tinggi tubuh anak lebih pendek dari anak lain seusianya. Pada bayi perhatikan pertumbuhan panjang badannya.
  • Berat badan cenderung turun atau  tidak naik-naik
  • Tumbuh kembang anak terhambat atau terlihat lambat, tidak sesuai dengan usianya.
  • Anak sering terkena penyakit infeksi
  • Pada anak yang lebih besar yang sudah sekolah dapat dilihat apakah ada kesulitan belajar, kemampuan kognitifnya lemah
  • Mudah lelah, tidak  lincah dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya.

Bila orang tua menemukan tanda-tanda di atas segera konsultasikan dengan tenaga medis.

Pencegahan Stunting

Menteri Kesehatan RI, Nila Farid Moeloek mengatakan bahwa  ada tiga hal yang harus diperhatikan dalam pencegahan stunting, yaitu:

· Perbaikan terhadap pola makan
· Perbaikan pola asuh
· Perbaikan sanitasi dan akses air

Untuk pola makan, kecukupan gizi remaja perempuan perlu diperhatikan agar ketika dia mengandung ketika dewasa, tidak kekurangan gizi. Seorang ibu yang mengandung harus mencukupi gizi janinnya dengan cara memperbanyak makan makanan bergizi yang berasal dari buah dan sayur lokal sejak dalam kandungan. Pemberian ASI Ekslusif dan MP ASI yang bergizi sangat penting bagi anak.

Untuk pola asuh, sangat penting diperhatikan usia menikah agar dapat mengasuh anak dengan baik dan siap mental.  Memperhatikan pemberian makan pada anak dengan benar. Orang tua harus memperhatikan anak dalam 1000 hari pertama kehidupannya. Jika anak kerdil dan mengalami keterlambatan harus ditangani sedini mungkin, sebab jika sudah menginjak usia 2 tahun, stunting akan menetap, tidak bisa dikembalikan menjadi normal (irreversible).

Untuk perbaikan sanitasi, anak perlu dibiasakan mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, serta tidak buang air besar di sembarang tempat seperti di pinggir kali misalnya.

Upaya yang dilakukan Pemerintah

Sebenarnya angka stunting di Indonesia telah menurun dari 37,2% pada tahun 2013, yang artinya sekitar 4 dari 10 anak Indonesia mengalami stunting. Saat ini walaupun sudah menurun menjadi 29,6% pada 2017 namun tetap terus dilakukan pencegahan.

Anak adalah generasi masa depan dan bila stunting tidak dicegah maka di masa yang akan datang dampaknya adalah generasi yang mengalami gangguan kecerdasan, produktifitasnya rendah, angka kemiskinan meningkat dan terjadi ketimpangan ekonomi. Itu sebabnya pemerintah menanggapi ini dengan serius dan mengadakan Gerakan Nasional Pencegahan Stunting dan Kerjasama Multi Sektor. Kerangka penanganan stunting yang melibatkan multisektor ini dibagi menjadi dua:

1. Intervensi Gizi Spesifik dengan kontribusi 30%
Intervensi yang dilakukan oleh sektor kesehatan pada 1000 hari pertama kehidupan (HPK), jangka pendek dan hasilnya dapat dilihat segera.
2. Intervensi Gizi Sensitif dengan kontribusi 70%
Intervensi yang dilakukan diluar sektor kesehatan melalui berbagai kegiatan pembangunan untuk masyarakat umum, tidak hanya untuk 1000 HPK.

Kita harapkan kelak tidak ada lagi anak Indonesia yang menderita stunting, sebab anak-anak Indonesia adalah tumpuan harapan masa depan. 

Vera Herlinadr. Vera Herlina,S.E.,M.M/VMN/BL/Partner of Management & Technology Services, Vibiz Consulting

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.