(Business Lounge Journal – News & Insight)

Budiman Sudjatmiko (Anggota Komisi II DPR yang membidangi pemerintahan dalam negeri, otonomi daerah, aparatur negara, dan agrarian) dan Dini Shanti Purwono (praktisi hukum lulusan Harvard Law School) berbicara bagaimana desa adalah sumber keberhasilan masyarakat Indonesia pada masa yang akan datang. Indonesia terdiri dari lebih dari 74 ribu desa ditambah lebih dari 8ribu kelurahan menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 56 Tahun 2015 tentang Kode dan data wilayah Administrasi pemerintahan atau 82.030 menurut Peraturan Kepala Badan Pusat Statistik Nomor 66 Tahun 2016 tentang Kode dan Wilayah Kerja Statistik Tahun 2016.

Puluhan ribu desa tersebut adalah desa-desa yang memiliki ruang, uang, barang, dan orang, demikian disebutkan Budiman dalam sebuah dialog live Rabu Satu bertajuk “Yuk Bangun Gerakan Optimis Indonesia Maju” yang digelar Onthree Space- Senopati Suites 2nd Floor, Jakarta. Sehingga adalah keuntungan bila generasi millennial dapat kembali ke desa. Demikian juga pendapat yang sama dikemukakan oleh Dini yang memaparkan petani modern harus lahir dari generasi millennial.

Budiman Sudjatmiko: “Kalau mau mudah berbisnis besok, gaul sama orang desa.”

Budiman mengemukakan bagaimana dana desa yang sudah terkucur pada 4 tahun ini telah melahirkan banyak BUMDES. Padahal sejumlah 187 triliun dana desa yang sudah terkucur belum lagi dioptimalkan hingga 100 persen. “Itu saja sudah melahirkan 34ribu Badan Usaha Milik Desa dari 74ribu desa dan itu saja belum optimum,” demikian diungkapkan Budiman.

“Bagaimana kalau nanti ditambah? Saya yakin dalam 2 tahun pertama pemerintahan pak Jokowi 2019-2020, itu bisa over 100 persen. Orang desa punya company, punya korporasi, punya unit bisnis, dan macam-macam bisnisnya. Mau bisnis jualan pisang goreng, sampai kalau perlu bisnis teknologi. Kenapa tidak?” lanjut Budiman.

Ia sangat optimis dengan pengembangan desa di Indonesia oleh karena itu ia mengusulkan kepada kaum millennial dan para start up yang mau berbisnis, untuk bergaul dengan orang desa guna mendapatkan kemudahan. “Anak muda di sini, sebagian juga start up, kalau mau mudah berbisnis besok, gaul sama orang desa. Believe me. Trust me. Trust me.”

Budiman menjamin bahwa tidak ada lagi masalah dengan orang desa saat ini. Tetapi Budiman pun menekankan bahwa orang desa saat ini membutuhkan pengetahuan, skill, dan teknologi. Sedangkan aset dan modal sudah mereka miliki.

“Jadi kalau Anda membawa pengetahuan, skill, teknologi dan kemampuan berjejaring: go-global, go-digital, dan go-financial maka akan muncul unicorn-unicorn baru dari desa”, demikian Budiman mengakhiri ulasan singkatnya. “Saya percaya itu,” sekali lagi Budiman menegaskannya.

Dini Purwono: “Tidak ada alasan millennial menjauhi industri pertanian.”

Dalam diskusi ini, Dini menceritakan pengalamannya blusukan dan bertemu dengan anak-anak petani yang menceritakan bagaimana ayah mereka melarang mereka untuk menjadi petani sebab kehidupan petani itu susah dan miskin. Oleh karena itu para petani menganjurkan anak-anak mereka untuk bekerja ke kota, bekerja di bank, atau perkantoran dan tidak bertani.

Mendengar hal tersebut, Dini pun bertanya, “Jika tidak ada yang meneruskan kegiatan pertanian, maka ke depannya kita akan makan apa?”

Dini pun membahas bagaimana keinginan bangsa ini untuk menjadi bangsa yang berdaulat. Hal ini juga memiliki arti bahwa berkaitan juga dengan masalah sandang, pangan, papan, dan yang paling penting adalah ,asalah perut (pangan). Oleh karena itu Dini menegaskan bahwa negara berdaulat haruslah juga memiliki regenerasi pertanian. “Jika tidak ada regenerasi pertanian, terus kita mau makan import semua? Tidak bisa seperti itu,” tegas Dini.

Karena itu, Dini menyoroti R&D (research and development) dalam bidang pertanian yang sangat penting untuk dikembangkan. “Menurut saya dan diskusi dengan beberapa orang yang memperhatikan industri pertanian, tidak cukup kita itu hanya drop traktor, drop alat-alat pertanian, drop pupuk, drop bibit, tetapi bagaimana kita men-empower, menyuntikkan Ilmu pengetahuan dan skill kepada petani-petani kita,” demikian Dini menjelaskan.

Dini sangat berharap program kerja Jokowi menghasilkan petani modern, juga menghasilkan petani-petani millennial. “Karena dalam berbagai sektor, dibutuhkan regenerasi. Jadi tidak ada alasan millennial menjauhi industri pertanian,” tegas Dini.

Dini pun mengajak kita memperhatikan negara-negara maju, yang justru petanilah yang kaya raya. Seperti para petani di Amerika dan Australia yang menjadi eksportir yang cukup besar dan menyumbang devisa negara. Mereka mengekspor susu, keju, dan gandum sampai ke Indonesia.

“Jadi tidak ada alasan tidak mau jadi petani. Kita harus mendobrak pemikiran bahwa petani itu miskin. Tidak begitu melainkan sebaliknya. Tetapi ini memang membutuhkan campur tangan pemerintah, intervensi pemerintah terutama di R&D,” demikian Dini berpendapat.

Salah satu yang juga disoroti oleh Dini adalah bagaimana kurikulum di Fakultas Pertanian yang sering kali tidak sesuai dengan keadaan di lapangan sehingga banyak sarjana pertanian yang oleh karena melihat keadaan lapangan yang berbeda dengan ilmu yang mereka pelajari, maka akhirnya mencari lapangan kerja lainnya atau “nyasar ke bank” demikian istilah Dini. “Sarjana pertanian harus semakin modern, harus menyuntikan ilmu pengetahuan, teknologi ke dalam industri pertanian. Apalagi kita memasuki industri 4.0. Kita tidak bisa lagi bertani dengan cara mencangkul atau bercocok tanam secara manual.”

ruth_revisiRuth Berliana/VMN/BL/Partner in Management and Technology Services, Vibiz Consulting Group

Leave a Reply

Your email address will not be published.