(Business Lounge Journal – Human Resources)

Ya, sekarang ada 4 generasi dalam satu dunia kerja (Baca: Empat Generasi, Satu Dunia). Hal ini pun sering kali membuat para pemimpin untuk putar otak bagaimana dapat mengakomodir semua generasi ini sehingga dapat memajukan organisasi. Setiap generasi memiliki kelebihannya masing-masing serta keunikan (bukan kekurangan) yang membedakannya dengan generasi lainnya. Saya tidak ingin mengatakan hal ini menjadi sebuah kekurangan, sebab jika hal ini memperoleh “sentuhan” yang tepat, maka akan menciptakan sebuah kekuatan.

Beberapa klien sempat melakukan “curhat” bahwa sampai hari ini belum menemukan strategi yang pas untuk dapat menerima para millennial yang hadir dalam perusahaannya. Bukan berarti tidak menerima, namun millennial memang memiliki keunikannya tersendiri sehingga perlu untuk menerapkan strategi tersendiri untuk memasangkannya dengan generasi lainnya.

Mempelajari kultur generasi

Anda tidak dapat mengatakan bahwa tidak perlu menganggap perbedaan antar generasi sebagai sebuah permasalahan besar. Anda tidak dapat mengesampingkannya dan menganggap bahwa ini bukanlah permasalahan. Jika Anda tidak berupaya menciptakan jembatannya, maka bersiaplah untuk kehilangan salah satu dari antara mereka, atau kehilangan masa depan perusahaan Anda.

Saya pernah ada di tengah-tengah “riuh rendah”-nya tiga generasi (waktu itu masih tiga generasi) tanpa adanya upaya untuk menjembataninya. Hasilnya, hampir setiap hari terjadi bentrokan, baik secara langsung atau pun tidak langsung. (Jangan membacanya sebagai bentrokan secara fisik). Ini benar-benar mempengaruhi suasana kerja yang kemudian sudah dapat ditebak, tingginya angkat turn over. Sampai kemudian pihak management menyadai bahwa mereka harus melakukan sesuatu.

Penting untuk mulai mempelajari kultur setiap generasi. Bukan hanya secara generasi, tetapi buatlah riset kecil dengan melibatkan para pemimpin untuk membawa contoh-contoh kasus ke meja diskusi. Saya yakin bahwa Anda akan benar-benar terbuka bahwa memang terjadi sebuah “gap” antar generasi yang harus disiasati untuk dijembatani.

Ciptakan kultur yang menjembatani

Saya pernah tahu seorang millennial yang berprofesi sebagai seorang marketing namun sangat “ogah” untuk memasukkan “nibbling” dalam strategi penjualannya. Dia tidak peduli apakah akan closing atau tidak, asal dia tidak perlu berbasa-basi dengan calon kliennya. Lalu bagaimana mau closing? Seorang sales memang harus dapat membangun sebuah kedekatan dan kepercayaan dengan calon kliennya dan itu membutuhkan sebuah keahlian dalam bertutur kata. Gombal? Tidak juga sebenarnya.

Alih-alih membantu si millennial untuk dapat memiliki keahlian dalam berjualan, sang team leader yang berasal dari generasi yang berbeda hanya sibuk untuk memberikan penilaian bahwa si millennial tidak memiliki kualifikasi yang baik. Apakah itu solusinya? Siapa yang seharusnya bertanggung jawab untuk menciptakan solusi?

Jika si team leader adalah seorang yang cukup peduli untuk dapat membuat sebuah penyesuaian, maka ia dapat menciptakan sebuah mekanisme untuk membantu si millennial. Namun bagaimana jika tidak? Dalam hal inilah peran pemimpin sangat dibutuhkan dalam menciptakan sebuah budaya kerja.

Bersambung

ruth_revisiRuth Berliana/VMN/BL/Partner in Management and Technology Services, Vibiz Consulting Group

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.