(Businee Lounge Journal – General Management) Dalam sebuah diskusi dengan teman-teman yang berkecimpung di dunia bisnis, seorang teman mengeluhkan sikap para marketingnya yang dinilai masih kurang mampu menghadapi pelanggan dengan baik, khususnya para marketing yang dari kaum millenials ketika berhadapan dengan pelanggan mereka yang sebagian besar berada di kategori usia babby boomers.

“Kalau product knowledge masih bisa dipelajari, tapi attitude mereka ini lho, seringkali kurang hormat kepada pelanggan. Terkadang hanya karena hal yang nampaknya kecil, seputar penggunaan kata-kata yang tidak tepat, pelanggan complain bahkan ada yang lari”, demikian teman saya menyampaikan keluhannya.

Dapat dimengerti apa yang dikeluhkan teman saya ini. Memang attitude atau sikap yang merupakan hal utama dalam berkomunikasi ini berbeda di setiap individu ataupun negara. Untuk Indonesia sebagai Negara yang memiliki sikap ramah serta sopan dan juga santun, maka masyarakat Indonesia rata-rata menghargai perasaan orang lain dengan menjaga sikap dan perilaku baik lisan maupun non lisan. Dengan demikian memang attitude menjadi hal yang penting, tidak hanya untuk internal relationship tetapi juga dalam berhubungan dengan pelanggan dan calon pelanggan.

Menyimak hasil penelitian Jeffrey Gitomer, penulis buku kondang berjudul “The Little Red Book of Selling”, dapat dipelajari mengapa seorang marketing atau sales people mengalami kegagalan? Apakah karena kurangnya pelatihan baik product knowledge maupun selling skills-nya? Benar memang, tapi itu bukan yang terutama karena hanya 15% menyebabkan kegagalan. Sejumlah 20% lagi dikarenakan kemampuan berkomunikasi yang lemah, 15% karena bermasalah dengan atasan atau manajemen. Lalu, 50% selebihnya karena apa? Ternyata karena attitude yang tidak baik. Jadi sangat penting pengaruh attitude terhadap keberhasilan dalam berbisnis.

Berbicara mengenai keberhasilan berbisnis, attitude baik seperti apa yang harus dimiliki oleh marketing dan pelaku bisnis pada umumnya dalam sebuah perusahaan? Pertama adalah kemampuan mendengarkan dengan baik, kedua, perlakukan orang lain atau pelanggan sebagai individu yang pantas dihargai. Ketiga, tidak menjanjikan sesuatu dengan berlebihan sehingga lebih dari yang dapat diberikan. Keempat, berbicara berdasarkan fakta, bukan hanya sekedar perkiraan-perkiraan. Kelima, tidak konfrontatif atau langsung menolak apa yang orang lain katakan. Keenam, bertanggung jawab atas apa yang dikatakan dan mampu mengantisipasi efek dari perkataannya sendiri.

Attitude yang baik dapat dikatakan sebagai modal mencapai sukses di bisnis, dan ini  tidak sulit selama dilakukan dengan sikap yang positif. Berdasarkan pengalaman untuk memiliki sikap yang baik perlu kekuatan spiritual yang kuat, karena ini berpegaruh terhadap kemampuan seseorang dalam melihat sisi positif dari setiap kejadian. Seseorang dengan keimanan yang kuat akan mampu menghadapi fenomena hidup sebagai pelajaran berharga, sehingga alih-alih mengeluh atau berputus asa, justru membangkitkan nilai lebih dalam diri.

Satu hal lagi menambahkan pentingnya attitude yang baik adalah semangat atau antusiasme. Antusiasme seperti satu kekuatan dari dalam yang akan mampu mendorong seseorang melakukan sesuatu dengan luar biasa bahkan melebihi apa yang dapat dibayangkan. Elbert Hubbart memiliki kata-kata motivational yang sangat banyak dikutip dalam pelatihan atau sesi-sesi motivasi tim marketing, yakni:  “Nothing great has ever been accomplished without enthusiasm”. Jadi tidak ada satupun kinerja atau keberhasilan menakjubkan yang dapat diraih tanpa antusiasme.

Emy Trimahanani/VMN/BL/Partner at Vibiz Consulting of Infrastructure and Regional Development, Vibiz Consulting Group

Leave a Reply

Your email address will not be published.