Trump dan Kim Sepakati Denuklirisasi

 

(Business Lounge Journal – News)

Donald Trump, Presiden Amerika Serikat ke-45, memang telah hendak bertemu dengan Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un sejak May tahun 2016 saat ia masih berkampanye. Trump berpendapat bahwa tidak ada masalah baginya untuk menemui Kim dan memintanya untuk menghentikan program nuklir yang selalu menjadi ancaman bagi banyak negara. Namun kala itu, banyak tokoh dunia yang berkomentar negatif dengan keinginan Trump tersebut.

Dua tahun berselang, Trump membuktikan kesungguhannya. Hari ini, Selasa, 12 Juni 2018, Amerika Serikat dan Korea Utara telah mengukir sejarah. Walaupun sebelumnya, kenyataan ini tidak dapat terbayangkan, namun kedua pemimpin negara besar ini saling berjabat tangan sambil tersenyum di Hotel Capella, Pulau Sentosa, Singapura.

Selama menjabat sebagai presiden Amerika Serikat, Trump telah sering bersitegang dengan Kim lewat jejaring sosial. Mereka saling melempar sindiran bahkan tidak jarang bernada ancaman.

Kim memang sedang melakukan uji coba rudal balistik antarbenua. Bahkan tepat pada hari pertama pada tahun lalu, Kim mengatakan bagaimana Amerika ada dalam jangkauan uji coba rudal jarak jauhnya. Tetapi berulang kali, Trump mengatakan bahwa hal itu tidak akan pernah terjadi. Trump memang selalu mengancam Kim bila mana pemimpin Korea Utara itu akan terus melanjutkan uji coba nuklirnya. Tetapi Kim tetap bergeming, hal ini juga yang membuat Amerika memperkuat pasukan militernya di Semanjung Korea.

Menyetujui Pertemuan Bersejarah

Sejak May tahun lalu, Trump telah mengeluarkan pernyataannya bahwa merupakan sebuah kehormatan bila ia dapat bertemu dengan Kim pada situasi yang tepat untuk membahas penghentian uji coba nuklir antarbenua milik Korea Utara. Ini merupakan sebuah opsi lainnya setelah berbagai upaya dilakukan Amerika Serikat untuk dapat menghentikan Korea Utara. Kepada Reuters, Trump pernah menyatakan bagaimana ia dapat memaklumi kondisi Kim yang sangat tidak mudah. Kim masih sangat muda, 27 tahun dan ayahnya telah tiada sehingga ia harus mengambil alih rezim ayahnya. Ini sudah pasti bukanlah hal yang mudah baginya.

Sejak awal Mei lalu, Kim telah menyetujui untuk bertemu dengan Trump. Lalu muncullah beberapa spekulasi mengenai lokasi yang paling aman untuk dijadikan tempat pertemuan, apakah itu sebuah ruangan di Panmunjom dengan meja-meja negosiasi yang separuhnya terletak di zona Korea Utara dan separuhnya terletak di Korea Selatan. Apalagi sebelumnya Kim menemui Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in.

Sedangkan beberapa lokasi lainnya yang pernah terlontar adalah Swedia, Thailand, Finlandia, Norwegia, atau Swiss yang terkenal netral, Ulaanbaatar, ibukota Mongolia yang berpenduduk jarang di barat laut Korea Utara pun sempat menjadi salah satu alternatif, mengingat Mongolia juga memiliki hubungan diplomatik dengan Pyongyang dan Washington. Kalau Pyongyang, Beijing, dan Washington telah dieliminasi sejak awal oleh kedua belah pihak. Hingga kemudian Amerika Serikat mencetuskan Singapura, negara yang kaya dan glamor terletak di ujung Semenanjung Malaya dan sering dilihat sebagai gerbang antara Asia dan Barat. Singapura memiliki kedekatan dengan Amerika Serikat selama Perang Dingin dan saat ini menjadi tuan rumah bagi kehadiran militer AS, di sisi lain Singapura juga memiliki hubungan diplomatik dengan Korea Utara. Ini adalah salah satu dari hanya 47 negara yang memiliki kedutaan Korea Utara.

Kesepakatan Bersama Amerika Serikat – Korea Utara

Dalam pertemuan hari ini, Kim sempat mengatakan bahwa adalah tidak mudah untuk sampai pada pertemuan hari ini. Ada beberapa rintangan namun mereka berhasil mengatasinya. Pertemuan ini pun menghasilkan beberapa kesepakatan yang sangat terkait dengan pembentukan hubungan baru antara Amerika Serikat dan Korea Utara serta perdamaian di Semenanjung Korea. Presiden Trump berkomitmen untuk memberikan jaminan keamanan kepada Korea Utara, sementara Kim Jong Un menegaskan kembali komitmennya untuk menyelesaikan denuklirisasi Semenanjung Korea. Adanya hubungan yang baru antara Amerika Serikat dan Korea Utara ini dipercaya akan memberikan kontribusi bagi perdamaian dan kemakmuran Semenanjung Korea dan dunia. Kemudian ada 4 hal yang menjadi pernyataan bersama:

  1. Amerika Serikat dan Korea Utara berkomitmen untuk membangun hubungan yang baru antara Amerika Serikat – Korea Utara sesuai dengan keinginan masyarakat kedua negara untuk perdamaian dan kemakmuran.
  2. Amerika Serikat dan Korea Utara akan bergabung dengan upaya mereka untuk membangun rezim perdamaian yang abadi dan stabil di Semenanjung Korea.
  3. Menegaskan kembali Deklarasi Panmunjom 27 April 2018, Korea Utara berkomitmen untuk menyelesaikan denuklirisasi Semenanjung Korea.
  4. Amerika Serikat dan Korea Utara berkomitmen untuk memulihkan POW/MIA (Prisoner of War or Missing in Action), termasuk pemulangan segera mereka yang sudah diidentifikasi.

Amerika Serikat dan Korea Utara berkomitmen untuk mengadakan negosiasi lanjutan yang dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Mike Pompeo, dan pejabat tingkat tinggi Korea Utara terkait, sedini mungkin, untuk melaksanakan hasil KTT ini.

Ruth Berliana/VMN/BLJ

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.