Strategi Menyasar si Limbic

(Business Lounge Journal – Human Resources)

Suatu hari seorang Direktur Sumber Daya Manusia dengan tiga orang eksekutif perusahaan sedang mewawancarai kandidat untuk posisi penting di perusahaannya. Sebut saja Liana, seorang kandidat yang duduk di hadapan sang direktur bersama dengan timnya. Ia adalah seorang yang cerdas, lulusan universitas terkenal dengan beasiswa penuh. Panel eksekutif ini sedang membuka-buka applikasi yang diajukan Liana dan mereka memang sedang mencari kandidat yang bisa menyesuaikan diri dengan budaya perusahaan serta dapat bekerja dibawah tekanan.

Sang direktur bertanya kepada Liana: “Kami memiliki banyak kandidat dengan kualitas terbaik untuk posisi ini. Beritahukan kepada kami, apa yang dapat kamu berikan kepada perusahaan, yang membuat kamu berbeda dari yang lain?”

Liana yang sudah mempersiapkan wawancara pada hari itu, segera memeras otak untuk menjawab dengan tepat. Liana sudah mencari informasi tentang perusahaan itu, tapi tentunya semua kandidat sudah mengetahuinya dan akan menjawab sesuai dengan informasi yang ada, lalu apa yang membedakan dirinya dengan yang lain. Setelah berpikir cepat, Liana menemukan jawabannya.

“Sebelum saya menjawab pertanyaan bapak, tentang apa yang bisa saya berikan bagi perusahaan,” Liana menjawab direktur Sumber Daya Manusia, “perkenankanlah saya menjelaskan alasan saya setiap pagi bangun dari tidur dan beraktifitas. ”Saya berjuang untuk menolong sesama saya menjadi yang terbaik dalam hidupnya, hal ini yang menginspirasikan saya tiap hari. Berdasarkan informasi di website perusahaan yang saya baca, hal ini juga merupakan tujuan perusahaan ini juga. Jadi inilah alasan mengapa saya melamar di perusahaan bapak.”

Jawaban Liana ini menarik perhatian mereka.

Para eksekutif ini berhenti untuk membuka-buka dokumen dan segera memandang wajah Liana. Liana segera membeberkan kemampuannya, keterampilan, juga kekuatannya, tapi perang sudah dimenangkan Liana. Pendahuluan Liana yang kurang dari satu menit membuat para eksekutif ingin merekrutnya.

Pengalaman Liana ini berkaitan dengan tata cara kerja otak manusia. Liana berbicara secara langsung mengenai limbic, decision-making centers dari otak manusia. Dengan menyatakan siapa dia, dan bukan apa yang bisa dia lakukan membangun koneksi yang instan dan tulus. Mereka lalu memutuskan untuk Liana menjadi bagian dalam perusahaan.

Dialog ini merupakan bagian dari keseluruhan perilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari, bagaimana sebuah keputusan diambil. Tentunya bagi Liana hal ini tidak dibuat-buat dan akan membuat dia mengerjakan sesuatu yang berarti bagi dirinya dan juga perusahaan. Keseluruhan dialog ini merupakan pelajaran praktis untuk dapat berhasil dalam berbisnis, temukanlah apa yang ada pada limbic, decision-making centers dari otak manusia. Apabila hal tersebut sesuai dengan produk atau jasa yang dimiliki perusahaan, tentulah akan terjadi transaksi dan bukan sekedar transaksi yang sementara, namun akan menjadi pelanggan yang loyal, sebab pelanggan loyal membeli alasan produk atau jasa itu dikeluarkan bukan sekedar apa features, benefit-nya, atau bagaimana produk dan jasa itu dibuat.

Fadjar Ari DewantoFadjar Ari Dewanto/VMN/BL/Coordinating Partner of Business Advisory Services, Vibiz Consulting Group

Leave a Reply

Your email address will not be published.