(Business Lounge Journal – News and Insight) Suatu negara tanpa pertumbuhan penduduk, pernahkah Anda bayangkan akan jadi apa?  Kekuatan utama suatu negara terletak pada penduduknya. Tidak terbayangkan jika tidak ada generasi penerus maka pastilah suatu negara akan punah.

Menurut worldometers.info, populasi di dunia saat ini (2018) tumbuh pada tingkat sekitar 1,09% per tahun. Namun angka ini pun sebenarnya turun terus dari 1,12% pada tahun 2017 dan 1,14% pada tahun 2016. Peningkatan populasi rata-rata saat ini diperkirakan mencapai 83 juta orang per tahun. Di seluruh dunia, negara yang melambat pertumbuhan penduduknya adalah Jepang, dibandingkan dengan UK dan US. Secara keseluruhan, Jepang memang memiliki harapan hidup tertinggi di dunia. Namun, dengan tingkat kelahiran yang rendah, piramida penduduk Jepang sangat memprihatinkan.

Dampak Terhadap Ekonomi

Pertumbuhan penduduk yang melambat dan populasi yang menua di Jepang ternyata menimbulkan banyak masalah untuk ekonomi negara. Pajak dari penduduk menjadi menyusut karena usia produktif yang rendah. Sedangkan biaya kesejahteraan sosial meroket karena banyaknya usia tua yang perlu diperhatikan kesehatan dan kesejahteraannya. Perusahaan-perusahaan kekurangan tenaga usia produktif, yang walaupun sudah menggunakan teknologi robotik, tetap memerlukan otak manusia. Kondisi ini telah menyebabkan Jepang menjadi negara industri yang paling berhutang dengan publik.

Diprediksi bahwa populasi Jepang akan turun dari 127 juta jiwa pada tahun 2018  menjadi hanya 96 juta pada tahun 2050. Tingkat pertumbuhan penduduk Jepang saat ini adalah  -0,23% (sumber: worldpopulationreview.com). Ini benar-benar masalah besar karena masyarakat sudah kehilangan minat untuk memiliki anak, apalagi angka kematian sebesar 300.000 per tahun pada tahun 2016 telah mengalahkan angka kelahiran di Jepang.

Solusi yang Membawa Titik Cerah

Insentif kelahiran dan insentif imigrasi disarankan sebagai solusi untuk menambah usia produktif yang diperlukan untuk mendukung populasi yang menua di Jepang.  PM Shinzo Abe memohon kepada masyarakatnya agar angka kelahiran dinaikkan menjadi 1,8 per wanita. Hal ini menimbulkan harapan baru bagi Jepang. Kabar baiknya ternyata banyak orang muda di Jepang masih optimis bahwa kehidupan yang bahagia dan seimbang dapat terjadi.

Sebuah studi tahun 2016 yang dilakukan oleh perusahaan riset Jepang menemukan bahwa meskipun hampir 70% pria Jepang yang belum menikah dan 60% wanita Jepang yang belum menikah dan tidak memiliki hubungan, masih mengatakan bahwa mereka ingin menikah. Mereka berharap pekerjaan mereka akan lebih menyenangkan dan jam yang lebih fleksibel sehingga perempuan dapat memiliki bayi.

Berita Januari 2018 menyatakan bahwa hal ini berhasil di Nagicho, sebuah kota kecil yang tidak terkenal di Jepang ternyata berhasil melipatgandakan angka kelahirannya menjadi 2 kali lipat sejak 2005-2014. Apa yang mereka lakukan? Pemerintah Nagicho menawarkan $2,682 (300.000 Yen) bagi ibu yang melahirkan anak, ditambah subsidi “baby sitting service”, subsidi kursi mobil bayi dan asesoris bayi, dan ketika anak masuk SD maka pemerintah memberikan tanggungan 30% dari biaya pemeliharaan kesehatan anak serta memberikan subsidi kepemilikan rumah. Wow…kini di Nagicho siapa yang tidak mau punya anak? Strategi ini berhasil!

Perjalanan Panjang

Namun Nagicho tetaplah hanya sebuah kota kecil. Jika hal ini tidak diikuti kota-kota lain di Jepang dampaknya tidaklah terlalu terasa bagi sebuah negara. Sebuah perjalanan panjang masih harus ditempuh pemerintah Jepang agar solusi peningkatan populasi ini sungguh-sungguh membuahkan hasil dan Jepang dapat bertahan di tengah dunia.

Vera Herlinadr. Vera Herlina,S.E.,M.M/VMN/BL/Partner in Management and Technology Services, Vibiz Consulting Group

Leave a Reply

Your email address will not be published.