(Business Lounge Journal – Medicine) Kapankah terakhir Anda mengatakan “Hari yang sangat indah..terimakasih!”. Atau kapankah kegembiraan memenuhi hati Anda dan rasa syukur saat memandang anak, istri atau suami? Saat melihat matahari masih bersinar, udara cerah, hujan yang memberi kesejukan, angin semilir yang  menyapa hari Anda? Masih adakah momen-momen syukur dalam hidup ini? Atau hanya bersyukur saat luput dari celaka, mendapatkan kenaikan pangkat, gaji, dan saat-saat tertentu lainnya?

Syukur dan Mental

Bukti terakhir menunjukkan bahwa orang yang menghitung dengan syukur berkah mereka setiap hari ternyata menunjukkan tingkat kebahagiaan yang meningkat dan tidak mudah depresi. Penelitian tentang rasa syukur telah dilakukan dalam tahun-tahun terakhir, menggunakan sampel orang-orang yang tentunya otaknya berfungsi dengan baik dan tidak ada masalah dengan mental. Namun tahun 2017, Joel Wong, Ph.D., Associate Professor Psikologi Konseling di Universitas Indiana, Amerika melakukan penelitian dengan sampel 300 orang mahasiswa yang dilanda rasa cemas dan depresi untuk melihat hubungan ungkapan syukur dengan kesehatan mental dan hubungan antara  pikiran dan perasaan negatif dengan kesehatan mental.

Hasilnya sungguh di luar dugaan bahwa orang yang tingkat kesehatan mentalnya rendah namun dengan konsisten menuliskan ucapan terimakasih terhadap apapun yang bisa mereka ucapkan mengalami perbaikan kesehatan mental yang signifikan dalam 4 sampai 12 minggu setelah konsisten menulis ungkapan terimakasih. Wow.. ini sangat luarbiasa!

Lalu apa yang terjadi dengan orang yang dengan konsisten mengungkapan pikiran, perasaan, dan pengalaman negatif setiap hari? Kesehatan mental mereka sama sekali tidak membaik, bahkan menurun. Ini menunjukkan bahwa ucapan syukur bisa bermanfaat tidak hanya untuk orang  yang sehat  mentalnya dan tetapi juga bagi mereka yang sedang berjuang dengan kesehatan mental mereka yang bermasalah. Sederhana namun sangat bermanfaat bukan?

Syukur dan Kebahagiaan

Sebenarnya apakah yang terjadi setiap kali Anda mengungkapkan syukur? Hal yang terjadi pada otak adalah terbentuknya jembatan antara synapse sel neuron di  otak dalam periode waktu yang terpendek dan membangun jaringan di otak kita berdasarkan apa yang kita pikirkan.

Dr. Wlasoff mengatakan bahwa memulai pemikiran yang negatif  tentang sesuatu akan membuat lebih mudah untuk memikirkannya lagi dan lagi di masa depan. Dengan demikian, orang tersebut akan terus memiliki pemikiran negatif jika tidak berusaha membuangnya. Namun sebaliknya jika kita dengan sadar berusaha untuk memiliki pemikiran positif, maka siklus umpan balik positif juga membantu kita untuk menjadi kepribadian yang lebih optimis.” Caranya adalah dengan mengungkapkan syukur. Ternyata selalu berhasil mengenyahkan pikiran yang negatif.

Alex Korb, Ph.D. dalam “The Grateful Brain-The Neuroscience” – 20 November 2012 – mengatakan bahwa begitu Anda mulai melihat hal-hal yang patut disyukuri, otak Anda mulai mencari lebih banyak hal untuk disyukuri. Hal ini menciptakan siklus yang baik pada otak Anda dan ini tidak sulit sebab bersyukur adalah sesuatu yang menyenangkan untuk  dilakukan. Mengungkapkan syukur meningkatkan produksi neurotransmitter serotonin dan dopamin. Neurotransmitter inilah yang membangkitkan pusat kebahagiaan pada otak.

Kalau begitu, mengapa tidak bersyukur setiap hari? Sebaliknya, jangan biarkan satu hari pun diisi oleh pikiran negatif.  Keinginan untuk mengucap syukur jadikanlah sebagai suatu ekspresi diri Anda dan akhirnya menjadi habit bagi Anda. Kebahagiaan selalu ada pada Anda, orang-orang yang rajin mengucapkan syukur.

Have a happy day always!

Vera Herlinadr. Vera Herlina,S.E.,M.M/VMN/BL/Partner in Management and Technology Services, Vibiz Consulting Group

Related Posts

3 Responses

  1. Dina

    Yes. It’s true : thinking positively will make us happy which urge us to give thanks everyday in our life.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.