HR Behavior to Accommodate Millennial Style

(Business Lounge Journal – Human Resources) Sebagai kelanjutan dari artikel sebelumnya (lihat: Knowing Millennial Demand VS HR Recruitment Strategy), kali ini kita sedikit menggali bagian selanjutnya yang perlu kita pahami agar dapat menyeimbangkan perubahan dan tuntutan generasi millenial dan menjelang era baru/New Generation. Ini sangat penting dilakukan oleh tim HR, khususnya dalam melakukan salah satu fungsinya yaitu wajib memenuhi kebutuhan tenaga kerja yang sesuai dengan kualifikasi yang diperlukan perusahaan. HR yang tidak mau untuk bersegera memikirkan dan menyiapkan strategi rekrutmen yang tepat dan benar, cepat atau lambat akan terlindas juga dan terhempas dari dinamika bisnis saat ini.

Secara umum, salah satu cara terbaik dalam menyikapi perubahan adalah dengan mulai merencanakan cara atau solusi menghadapinya. Seperti kita ketahui, perubahan itu sendiri datang tanpa menunggu kesiapan kita. Kitalah yang mau tidak mau memiliki sikap siap beradaptasi atas perubahan apapun, dimanapun, berapa kalipun dan dalam kondisi apapun untuk mampu bergerak mengatasinya seperti seekor burung rajawali yang tidak takut akan datangnya badai, sebaliknya justru memanfaatkan badai itu untuk terbang lebih tinggi.
Dalam kesempatan ini, penulis ingin membagikan satu cara yang semestinya dilakukan oleh tim HR untuk tetap dapat menarik minat kerja dan merekrut generasi millenial untuk bekerja sama dalam waktu yang cukup panjang, yaitu perubahan sikap dari tim HR sendiri dengan langkah perilaku sebagai berikut:
1. More than just to be a good listener
Saat ini, bukan saja kita harus mendengarkan mereka bicara, mengungkapkan pikiran dan ide mereka bahkan kritik tajam yang mereka cermati, kita juga harus mau dengan rendah hati memahami pola pikir mereka yang sangat berbeda dengan kita bahkan bisa jadi dengan budaya kita dan didikan orang tua kita dahulu.
2. Act to be like them: be their friend and partner
Menjadi teman atau sahabat yang baik bagi mereka artinya kita sendiri “terpaksa” kehilangan style kita yang ingin dihargai dan dihormati yang sebenarnya adalah kewajaran jika dilihat dari senioritas. Namun kita mesti sadari, generasi millenial cenderung meninggalkan ‘toto kromo’ yang memberi jarak antara level senior dan junior. Mereka cenderung menyukai pola kerja “setara” dalam hal bekerja sama dan berinovasi.
3. Prepare your heart and mind to be rejected
Bisa jadi ide-ide kita dinilai “old culture/kolot”. Dalam pengalaman berdiskusi dengan mereka, ternyata banyak pemikiran-pemikiran baru yang penulis akui memang lebih aplikatif dalam menjalankan bisnis saat ini. Perusahaan era ini memang dituntut untuk menghasilkan inovasi yang sangat cepat dan ketat dalam kompetisi persaingan bisnis baik di dalam maupun dari luar negeri.
4. Be their idol and good figure
Setelah 3 hal di atas, barulah kita dapat memberikan arahan perlunya batasan-batasan dan rambu-rambu norma yang akan membantu mereka untuk tetap menjunjung budi pekerti yang baik tanpa banyak nasihat namun menjadi contoh yang dapat mereka tiru (role model) secara konsisten dalam perilaku keseharian kita.
Proses keselarasan sikap dan perilaku ini akan menghasilkan sinergi yang kuat dan inovatif demi keberlangsungan bisnis di perusahaan.
Semoga artikel ini memberi manfaat yang baik.

Melva Emsy Simalango/VMN/BL/Partner in Management and Technology Services, Vibiz Consulting Group

Leave a Reply

Your email address will not be published.