(Business Lounge Journal – Art)

I paint without seeing and making-up. Moment is very important since idea disappears faster than we fully realize it.

Didefinisikan sebagai ‘suara’ yang lantang, demikian Yoes Rizal, seniman dari generasi kontemporer selalu menuangkan pikirannya dalam bentuk garis, warna, dan noda yang selalu bertabrakan seperti halnya refleksi getaran suara pada ruang. Kesempatan kali ini, ia kembali memamerkan hasil karyanya “pop–up/meletup” di Gedung D Galeri Nasional Indonesia. Mengumpamakannya sebagai sebuah tarian waltz, ia pun memainkan berbagai warna, mulai dari oranye, kuning, oker, dan biru yang dijahit-ditarik dengan garis gelapnya ke dasar di mana simbol tanda noda tanpa makna bercampur sebagai tanda-tanda alam. Hingga 22 Februari mendatang, ia menampilkan sekitar 25 lukisan yang seluruhnya abstrak.

Tarian warna yang kadang-kadang nampak tidak terstruktur dan tidak bisa dikenali dan kadang-kadang tenang seolah melukiskan gelombang kehidupannya. Kalau kita melihat lebih teliti tarian warna tersebut, maka kita akan menyadari bahwa Yoes Rizal ingin membawa kita ke masa lampau yang kadang terlupakan, dan pada momen yang sama kita akan mendapat kesan masa depan yang dekat. Yoes Rizal selalu menghargai masa lalu dengan rasa hormat dan visi dunia masa depan dengan membangun di atas objek-objek spiritual, yang secara sangat matang merubahnya menjadi warna, garis.

Lukisan-lukisannya adalah komunikasi dengan warna yang konstan tanpa putus, dimana dalam setiap situasi ia mencoba berkomunikasi dengan kenangan masa lalu sekaligus kenangan masa yang akan datang. Pameran karya-karyanya ini adalah ‘catatan’ dari objek-objek yang berhubungan dengan senimannya, dan senimannya mendefinisikan sebagai setetes air atau sebutir debu. Jejak masa lampau dan kontak dengan dunia eksternal terus-menerus membuatnya kesal dan kembali ke tanah asal dilambangkan dengan warna biru dan hijau pada latar belakang yang oker. Pelukis pada satu segi dengan goresan kuasnya yang cemerlang menyenangkan serta pada segi lain dengan simbol tulisan campur-aduk yang menggoda perasaan pemerhati.

Dalam pertarungan terus-menerus dengan kanvas putih, seniman mencari tempatnya di bawah kubah biru langit dan dengan kecemerlangan gerakan ekspresif dia seolah mengabarkan: “Aku disini, disinilah Aku! Aku di sini..!” seperti matahari yang menumpahkan sinar pada segala sesuatu yang baik dan buruk, lembut dan keras, indah dan jelek, kepada semuanya sama.

Lukisan lukisannya nampak sebagai archive memory yang disengaja diaduk seperti ombak yang terpicu dari luar dan hingga saat ini dalam lukisannya terus-menerus terjalin dengan kenangan sebagai simbol mekar/blossom – mengabarkan musim semi segera datang yang ditunjukkannya secara konsisten hubungan antara lembab-kering dan dingin-panas. Pada setiap karyanya yang ada dengan jelas memperlihatkan petunjuk karya selanjutnya, dengan mengurangi detail dan koreksi dan hanya sedikit goresan akan mampu menampilkan jiwa.

Mata para pengamat pun seolah tersandera di bawah kendalinya. Masa lampau yang dibentuk oleh gerakan bebas dan warna yang menenangkan akan hilang dan di gantikan dengan kehadiran gerakan sederhana seperti sinar matahari pada langit yang biru. Teriakan akan hilang digantikan dengan kemunculan catatan kaya warna yang tidak terbentuk.

Nancy/VMN/BLJ – Galeri Nasional

Leave a Reply

Your email address will not be published.