Melihat Masalah dari “Different Angle”

(Business Lounge Journal – General Management) Setiap orang baik kecil atau besar, muda maupun dewasa, pasti pernah menghadapi apa yang namanya masalah. Mau tidak mau pasti semua orang pernah mengalaminya. Sepertinya sulit untuk melihat dimana akar masalah sebenarnya dan kemana jalan keluarnya. Kondisi ini membuat kita terjebak dan  mengarah kepada kebuntuan.

Padahal secara kodrati, manusia merupakan makluk monodualis. Apa itu? Manusia merupakan  makluk individu yang juga memiliki peranan sebagai makluk sosial. Kita diberi kemampuan (akal, pikiran dan perasaan) sehingga sanggup berdiri sendiri dan bertanggung jawab atas dirinya.

Sadar atau tidak sadar, setiap manusia cenderung akan berusaha mengembangkan kemampuan pribadinya untuk memenuhi hakikat individualitasnya.

Untuk itu pentingnya memiliki cara pandang yang berbeda, berbeda disini adalah melihat masalah bukan sebagai akhir dari segalanya, tetapi dapat mengubahnya menjadi sebuah peluang atau kesempatan untuk mendapatkan yang lebih baik. Perubahan pemikiran ini sering kita sebut sebagai “paradigm shift” atau pergeseran paradigma.

Mari kita simak apa itu Paradigma? Secara umum paradigma merupakan sebuah cara pandang seseorang terhadap diri dan lingkungannya dan cara pandang inilah yang akan mempengaruhinya dalam bagaimana dapat bersikap (afektif), berpikir (kognitif), dan bertingkah laku (konatif).

Dalam bukunya The Structure of Scientific Revolutions, Thomas Kuhn, seorang fisikawan, filsuf dan sejarawan sains terkenal mengatakan perubahan filisofi sains dan mengubah cara berpikir adalah pergeseran paradigma.

Permasalahan itu perlu dipecahkan, perlu diatasi, bukan dihindari sehingga tidak berulang-ulang tetapi dihadapi dengan memikirkan apa penyebab masalah ini bisa terjadi. Untuk itu pentingnya untuk kita merubah cara berpikir kita terhadap masalah.

Saya teringat kepada seorang penemu yang sangat berjasa kepada seluruh penduduk bumi ini, Thomas Alva Edison penemu lampu pijar. Pada tahun 1877, Thomas Alfa Edison menyibukkan diri dengan masalah yang pada waktu itu menjadi perhatian banyak peneliti yaitu lampu pijar. Edison menyadari betapa pentingnya sumber cahaya semacam itu bagi kehidupan umat manusia, sehingga ia pun memberikan seluruh waktu dan tenaganya, bahkan menghabiskan uang sebanyak USD 40.000 yang didapat dari hasil menjual penemuannya ke perusahaan-perusahaan. Dalam kurun waktu dua tahun, ia melakukan percobaan membuat lampu pijar.

Persoalannya ialah bagaimana menemukan bahan yang bisa berpijar ketika dialiri arus listrik tetapi tidak terbakar. Dengan melakukan berbagai percobaan juga dengan menghabiskan sekitar 6000 bahan, maka pada tanggal 21 Oktober 1879 ditemukanlah lampu pijar listrik pertama yang mampu menyala selama 40 jam. Kemudian dikenallah pernyataan Edison, “Aku tidak gagal. Hanya saja aku menemukan 10000 jalan yang ternyata tidak bekerja.” Thomas melihat masalah sebagai sebuah jalan.

Kita tidak bisa menolak datangnya sebuah masalah namun kita bisa mencegah atau mengatasinya melalui langkah-langkah seperti ini. Pertama: kumpulkan fakta, perasaan dan pendapat serta menetapkan prioritas untuk unsur-unsur penting. Kedua: menulis ulang masalah, fakta dan data pendukung. Ketiga: memilih ide-ide terbaik dan yang memberikan solusi optimal. Keempat: pilih siapa yang akan dilibatkan dan Kelima : menguji solusi terhadap hasil yang diinginkan.

So, temukan cara Anda melihat suatu masalah untuk mengubahnya menjadi peluang.
Mark Sinambela/VMN/BL/Partner in Human Capital

Leave a Reply

Your email address will not be published.