Creative Problem Solving sebagai Sebuah Paradigma

(Business Lounge – General Management)

Mengajarkan bagaimana seseorang tidak takut terhadap masalah, bahkan seolah berani untuk berkata, “Di mana masalah?”, sepertinya sebuah hal yang “klise”. Siapa sih yang suka pada masalah? Bahkan kalau bisa menghindar dari masalah nampaknya sebuah alternative yang lebih dicari.

Tetapi inilah yang akan saya tekankan setiap kali memberikan pelatihan Creative Problem Solving and Decision Making, bahwa permasalahan bukanlah sesuatu yang harus dihindari, melainkan sebuah hal yang seharusnya dipandang justru sebagai sebuah kesempatan untuk mendapatkan nilai tambah. Nah, bagaimana cara seseorang memandang sebuah permasalahan sering kali telah menjadi sebuah permasalahan itu sendiri.

Sebagai sebuah contoh, bila di hadapan Anda terdapat tumpukkan sampah yang menggunung, apakah Anda mau mendekatinya? Saya jamin Anda akan berupaya untuk menghindar darinya dengan paling tidak beralasan bahwa sampah adalah sumber penyakit, tidak mungkin untuk menyukainya. Namun, bagaimana bila Anda tidak dapat menghindarinya, bahkan tumpukkan sampah itu seakan menjadi bagian dari kehidupan yang tidak dapat Anda singkirkan? Adalah sebuah kebodohan apabila kemudian Anda memilih untuk meratapi hidup Anda seolah tumpukkan sampah itu adalah sebuah permasalahan besar yang segera mematikan Anda. Lihat saja para pemulung, mereka justru mendekati tumpukkan sampah dan memilih untuk menggantungkan hidup mereka darinya. Ada banyak benda yang dapat mereka jual kembali dan memberikan mereka penghasilan, apakah itu besi tua, barang-barang bekas, kertas, dan masih banyak lagi. Ya, tumpukan sampah dapat dipandang sebagai sumber permasalahan, tetapi juga dapat dipandang sebagai sumber penghasilan. Sekali lagi, bagaimana cara Anda memandang itulah yang akan menjadi sebuah permasalahan.

Stephen Covey, penulis The Seven Habits, memiliki sebuah quote yang saya rasa sangat tepat “Effective people are not problem-minded; they’re opportunity minded. They feed opportunities and starve problems.” Bahwa, seorang yang efektif bukanlah mereka yang memandang sebuah permasalahan sebagai sebuah permasalahan, melainkan sebuah kesempatan. Jika Anda tidak pernah memandang sebuah permasalahan sebagai sebuah masalah, maka Anda pun akan merasa bahwa Anda bukanlah seorang yang bermasalah. Ini merupakan point pentingnya.

Jika semua orang memiliki paradigma demikian, maka saya jamin tidak akan ada orang yang merasa frustasi dengan masalahnya, yang ada adalah orang-orang yang akan terus mengembangkan dirinya untuk terus dapat survive.

Namun saya akui, bahwa menanamkan pola pikir demikian bukanlah sebuah hal yang mudah. Dari sekian banyak peserta pelatihan yang saya temui dalam setiap pelatihan, selalu saja terdapat orang-orang yang tetap memandang sebuah permasalahan adalah permasalahan. Mengubah paradigma, itulah yang harus pertama kali dilakukan. Mudah? Akan menjadi mudah jika kita bersepakat untuk memandangnya demikian.

ruth_revisiRuth Berliana/VMN/BL/MP Human Capital Development Division, Vibiz Consulting, Vibiz Consulting Group

Leave a Reply

Your email address will not be published.