Perhatikan Acceptance Level Sebelum Lakukan Perubahan

(Business Lounge Journal – General Management)

Kebanyakan orang akan tidak menyukai adanya perubahan, sebab sebuah perubahan sering kali berakibat pada ketidaknyamanan. Siapa sih yang mau rela hati merasa tidak nyaman? Otomasi adalah salah satunya yang seringkali menimbulkan pertentangan sebab akan berdampak pada kinerja SDM. Dengan adanya otomasi, maka akan ada pekerjaan yang dialihkan dan tidak lagi dikerjakan secara manual. Dampaknya tentu saja akan ada SDM yang menganggur. Mereka yang akan merasa terusik kenyamanannya, otomatis akan menentang, belum lagi Serikat Pekerja (SP), bahkan juga pihak manajemen dan komisaris.

Dalam hal inilah, pihak manajemen harus dapat bersikap dengan bijak.

Melakukan analisa

Penting untuk melakukan analisa dengan tepat apa yang menjadi dampak sebuah otomasi sebelum melakukan penerapan. Apa saja yang berkaitan dengan sebuah otomasi dan apa saja yang menjadi dampaknya. Kemudian apakah target yang diharapkan dengan melakukan otomasi dan bilamana hal tersebut dapat tercapai. Apabila kemudian tidak tercapai, apakah yang menjadi akibatnya. Buatlah berbagai pertanyaan untuk bermacam-macam simulasi atas perubahan yang hendak dilakukan.

Siapakah yang paling pertama memiliki tanggung jawab atas penerapan ini? Sudah pasti sang pemimpin.

Pastikan acceptance level-nya

Apa sajakah perubahan yang terjadi dan bagaimanakah perubahan ini dapat diterima baik oleh semua stake holder. Cobalah untuk mengukur acceptance level-nya (tingkat penerimaan). Sebab sering kali perubahan yang terjadi tidak disertai dengan acceptance level yang tinggi. Bila demikian dapat dipastikan bahwa perubahan yang terjadi akan gagal untuk diterima, atau paling tidak mengalami perjuangan yang keras.

Semakin tinggi acceptance level, maka akan semakin besar penerimaan atas sebuah perubahan. Begitu juga sebaliknya, semakin rendah acceptance level, maka akan semakin dekat dengan penolakan.

Pengukuran dilakukan bukan ketika perubahan terjadi, melainkan sejak awal ketika analisa dilakukan. Hal ini jugalah yang akan menjadi dasar bagi sang pemimpin untuk mengambil keputusan dalam melakukan implementasi. Lakukanlah hal ini secara berkala sebelum menghasilkan sesuatu yang sesuai dengan harapan.

Bukan hanya masalah kualitas

Pada umumnya, perubahan yang dilakukan lebih berfokus pada kualitas. Ketika sebuah otomasi diterapkan, maka lebih banyak yang lebih berfokus pada bagaimana keberhasilan sistemnya, aplikasinya, dan semua bersifat teknis. Oleh karena itu adalah baik untuk membentuk 2 tim yang berbeda, yaitu mereka yang menangani masalah teknis serta tim lainnya yang menangani masalah penerimaan serta dukungan atas perubahan yang ada.

Sehingga perubahan dilakukan tidak hanya untuk mengejar prestasi ataupun penghargaan atau sekedar memenuhi KPI belaka. Adalah sia-sia ketika sebuah sistem telah diciptakan dengan sedemikian “canggih” namun sulit untuk dipahami atau diterapkan.

Lakukan pendekatan

Sering kali acceptance level menjadi sangat rendah oleh karena kurangnya pemahaman. Pemahaman hanya dapat timbul ketika dilakukan pendekatan dan sosialisasi dengan cara yang tepat. Untuk hal ini pun, Anda perlu melakukan rangkaiannya berdasarkan strategi yang tepat. Jika perubahan yang ada akan berkaitan dengan begitu banyak orang, maka sudah dapat dipastikan bahwa pendekatan yang harus Anda lakukan pun harus mencakup besaran yang sama.

Hal yang paling efektif adalah dengan memulainya dari para pucuk pimpinan yang kemudian dapat memiliki komitmen untuk mendukung perubahan tersebut.

citra/VMN/BL/Journalist
Editor: Ruth Berliana

Leave a Reply

Your email address will not be published.