Menguak Misteri Menguap

Menguap

(Business Lounge Journal – Health)

Menguap = Ngantuk?

Bayangkan saat meeting berlangsung dan ada orang yang menguap lebar-lebar di tengah berlangsungnya meeting yang Anda pimpin, maka apa yang Anda pikirkan? Pastilah Anda berpikir orang tersebut sangat mengantuk, sedang jenuh, sudah bosan, dan tidak akan bertahan lama dalam meeting bukan?  Tepat! Ternyata tidak lama kemudian apa yang Anda pikirkan itu benar-benar terjadi.

Sebagian lagi mencoba berpikir positif bahwa saat itu otak sedang memerlukan oksigen sehingga manusia akan membuka rahangnya lebar-lebar dan mengambil udara lebih banyak  ke dalam saluran nafasnya. Menguap memang ditandai dengan membuka mulut yang disertai dengan inspirasi yang panjang, dengan gangguan ventilasi singkat dan sebentar kemudian matapun mulai berair.

Menguap itu nyaman

Walaupun demikian, menguap telah lama dianggap sebagai tanda kebosanan dan umumnya diartikan sebagai tidak sopan jika dilakukan di hadapan orang lain. Herannya menguap ini  menular lho! Saat melihat, mendengar, membaca, atau bahkan berpikir tentang menguap, dapat memicu seseorang menguap. Hal yang unik adalah menguap memberikan rasa nyaman sehingga menyenangkan dilakukan berulang-ulang, bahkan dapat membangkitkan gairah. Benar-benar unik bukan?

Gairah yang  terjadi setelah menguap dianggap karena stimulasi mekanik carotid body, yaitu sekelompok kecil kemoreseptor dan sel pendukung yang terletak di dekat percabangan dari arteri karotis.  Hal ini dapat dimengerti karena ternyata efek fisiologis menguap yang ditemukan dalam penelitian terhadap 48 siswa yang berusia 18-19 tahun, menyatakan adanya peningkatan signifikan dalam denyut jantung pada puncak menguap dan pasca-menguap.

Menguap dan otak

Namun akhir-akhir ini, setelah bertahun-tahun tidak diselidiki, maka sebuah studi baru telah membuat penemuan yang menarik: ternyata lamanya Anda menguap Anda berkorelasi dengan seberapa berat otak Anda, dan berapa banyak neuron yang ada dalam otak Anda. Sebuah jurnal Biology Letters mengungkapkan bahwa lamanya menguap memprediksi besarnya ukuran otak seseorang, berbanding lurus.

Para peneliti  menemukan bahwa ternyata tukang menguap (yawners) yang terpanjang adalah manusia bila dibandingkan dengan kucing, anjing, gorila, rubah, unta, landak, kuda, tikus, simpanse, dan hewan lainnya. Berat otak manusia berkisar antara 1,2kg – 1,5kg. Runner-up-nya adalah simpanse, kuda, dan unta. Sedangkan yawners terpendek adalah kelinci dan tikus. Kesimpulannya, lamanya menguap berhubungan dengan berat otak.

Menguap dan cooling effect

Salah satu peneliti studi tersebut, Andrew Gallup, seorang psikolog evolusioner mengatakan bahwa menguap adalah suatu mekanisme untuk mendinginkan otak. Pada saat itu rahang menganga lebar dan sirkulasi darah meningkat ke tengkorak Anda, memompa masuk darah hangat dari otak Anda sekaligus ketika Anda juga menghirup dalam-dalam gelombang udara ke dalam rongga hidung dan mulut Anda, menjadi pendingin arteri otak melalui  proses konveksi persis seperti kerja radiator mendinginkan mobil.

Fenomena sehari-hari yang sangat menarik tentang menguap kini telah terungkap lebih jelas dan ternyata banyak memiliki manfaat. Jadi, jangan malu untuk menguap bila tubuh Anda merasa perlu menguap, sebab itu berarti otak Anda sedang memerlukannya.  Asal tidak berlanjut dengan tidur di tengah meeting tentunya.

Vera HerlinaVera Herlina/VMN/BL/CEO of Management and Soft Skill Academies, Vibiz Consulting Group.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.