Let The Machines Take Over

Jalan Raya 4

(Business Lounge Journal – News and Insight) Generasi muda enggan ‘nyupir’ sendiri. Begitukah?

Sudah ramai menjadi pokok pembahasan para raksasa otomotif, bagaimana penjualan kendaraan beroda empat ini pada masa mendatang akan menghadapi ancaman yang tidak main-main. Maraknya jasa transportasi berbasis aplikasi ditambah lagi sistem berbagi kendaraan, telah memberi dampak pada para produsen otomotif. Tidak hanya itu, kehadiran mobil-mobil canggih berteknologi, kelihatannya juga akan lebih menggiurkan para generasi muda. Raksasa-raksasa teknologi telah melebarkan sayapnya dan merambah dunia otomotif dengan menciptakan mobil-mobil dengan sistem komputer yang canggih.

Lebih setahun yang lalu, sebuah lembaga market research, Penn Schoen Berland melakukan sebuah jajak pendapat untuk Ford yang juga tengah dilanda kekuatiran. Raksasa otomotif Amerika yang telah menarik diri dari Indonesia ini memiliki keinginan untuk mengidentifikasi lebih dalam dua generasi yang akan menentukan masa depan dunia, yaitu generasi Y dan Z. Sebagai hasilnya ditemukan bahwa generasi muda tidak memiliki ‘nyali’ sebesar para generasi sebelumnya.

Ada 5 hal yang paling ditakuti para responden yang berasal dari generasi Y dan Z berdasarkan persentase terbesar: berpapasan dengan pengemudi lain, berbicara di depan umum, kematian, ular, serta laba-laba.

Enggan ‘nyupir’

Ford berasal dari Amerika ia pun melakukan surveinya di sana. Para responden merasa tidak nyaman untuk berkendara di kota-kota besar di Amerika sebab mereka dapat menemui jalan-jalan yang licin dan bersalju (ini menjadi hal utama yang menakutkan), parkir di tempat yang penuh sesak, jalanan yang ramai, adanya blind spot, juga bila mereka harus berkendara dengan tidak tahu arah.

Hal ini memang belum tentu berlaku di seluruh dunia, apalagi di Indonesia. Tetapi saya sependapat, bahwa berkendaraan terutama di Kota Jakarta, memang membutuhkan kekuatan ‘nyali’. Tidak jarang harus terjadi adu nyali antara sesama pengemudi. Kata ‘malas’ menjadi jawaban untuk lebih memilih transportasi berbasis aplikasi sudah menjadi hal yang biasa didengar oleh telinga.

Di sisi lain, generasi Z sangat keranjingan teknologi. Sudah dapat dipastikan bahwa generasi ini akan lebih memilih segala sesuatu yang berbau teknologi. Misalnya saja, para baby boomer pada zamannya sudah cukup senang dapat mendengarkan musik dari radio kaset yang terpasang di mobil mereka. Generasi X juga pernah merasakan masa itu yang kemudian diambil alih oleh Compact Disk yang juga dinikmati para millennial. Namun sekarang Gen Z memilih untuk lebih simple, lepas dari kaset dan disk dengan lebih memilih musik streaming.

Lau bagaimana jika ingin membujuk  mereka untuk melirik ‘barang dagangan’ Anda? Teknologi jawabannya.

Let the machines take over

Teknologi telah menjadi masalah yang sangat serius. Terdapat banyak contoh, bagaimana para produsen yang tidak mau berubah dan meningkatkan kemampuan maka sudah pasti akan tersingkir. Karena itu, mengikuti perkembangan teknologi sudah pasti menjadi sesuatu yang wajib dikejar jika tidak ingin tinggal kenangan.

Sekarang, andaikata hasil survei Ford lebih dari setahun yang lalu dapat dimanfaatkan oleh produsen-produsen otomotif dunia, maka persaingan pun akan tetap dapat berlangsung dengan lebih baik. Apakah para produsen dapat menciptakan teknologi sehingga para generasi muda dapat mengatasi masalah parkir, blind spot, atau penentu arah.

Ya, Ford memang mencobanya. , salah satunya untuk mengatasi masalah parkir yang membuat generasi muda enggan mengendarai mobil. Pada tahun lalu, perusahaan ini menawarkan edisi kendaraan yang memiliki semi-automatic parallel parking yang akan membantu pengendara untuk parkir. Waw, jika kendaraan dapat kita instruksikan untuk memarkirkan dirinya sendiri?

Toyota juga tidak mau kalah. Baru saja memasuki tahun baru, produsen mobil Jepang ini sudah meluncurkan mobil Concept-i yang mengandung artificial intelligence. Teknologi ini dapat memonitor seberapa fokus si pengemudi sehingga dapat memberikan warning bagi pengemudinya.

Jika para produsen mobil tidak dapat menolong generasi muda mengatasi ketakutannya, sudah dapat dipastikan mereka akan lebih memilih self-driving car atau mobil otonom. Sehingga mengapa tidak mempercayakan saja kepada teknologi?

nancy/VMN/BL/Journalist
Editor: Ruth Berliana

Leave a Reply

Your email address will not be published.