(Business Lounge Journal – Human Resources) Selamat tahun baru! Saya yakin sebagian besar dari Anda menyambut tahun yang baru ini dengan segudang rencana yang akan Anda lakukan pada tahun ini. Tidak hanya menyangkut bisnis Anda, tetapi juga kehidupan Anda secara pribadi. Saya ingat benar kegembiraan teman-teman di awal tahun, ketika cuti tahunan pun menjadi full kembali dan semua dengan excited memasukkan rencana cuti mereka pada tahun yang baru.

Namun sebuah pengalaman yang tidak pernah saya lupakan bagaimana seorang rekan selalu mempertanyakan, mengapa cuti menjadi sesuatu yang diwajibkan. Termasuk adanya kebijakan untuk mengambil sejumlah hari tertentu secara bersamaan. Terus terang, hal ini sangat mengherankan saya, sebab siapa sih yang tidak suka liburan? Tetapi ternyata ada juga mereka yang merasa sangat ‘menderita’ ketika harus mengajukan cuti.

Usut punya usut maka tahulah saya bahwa adanya kekuatiran bahwa timnya tidak dapat tertangani dengan baik telah demikian menguasai pemikiran si pemimpin ini. Adanya pertanyaan-pertanyaan, nanti siapa yang akan memberikan approval untuk setiap transaksi, atau nanti siapa yang akan memastikan seluruh tim akan bekerja sesuai dengan prosedur yang ada. Terus terang saya merasa kasihan dengan pemimpin ini, sebab ia tidak hanya lelah berpikir mengenai proses bisnis yang harus berlangsung, tetapi juga lelah sebab banyak pemikiran negatif yang memenuhi kepalanya. Rasa tidak percaya telah menjadi dasar dari segala pemikirannya.

Pemimpin seperti ini perlu ditolong! Jika tidak, ia akan menciderai tim yang dimilikinya. Jika tidak ada satu pun dari tim yang memperoleh kepercayaannya, maka seluruh tim lambat laun akan sangat sulit berkembang.

Saya ingat benar, bagaimana seorang manager yang menjadi bawahan si pemimpin ini, tidak berani mengambil keputusan bahkan pada saat yang mendesak. Si manager akan mencoba berbagai cara untuk mengkonfirmasikan keputusan yang akan diambilnya kepada si pemimpin untuk meminimalkan risiko. Kondisi ini sebenarnya sangat merugikan kedua belah pihak. Si pemimpin tidak akan mendapatkan tim yang terbaik untuk mendukungnya dan si manager pun tidak akan dapat berkembang dalam mengambil risiko.

Namun situasi seperti ini kemudian tiba-tiba berubah setelah bergabungnya seorang manager yang baru ke dalam tim ini. Seorang manager yang memang telah memiliki kepercayaan diri. Sejak awal dia meminta penjelasan mengenai job desc yang dimilikinya serta wewenang apa saja yang dimilikinya. Sejak hari pertama ia bekerja, maka ia menjalani apa yang menjadi tugasnya dan tidak ketinggalan untuk memberikan laporan rinci secara berkala. Memang tidak serta merta berjalan dengan mulus, sebab persepsi yang berbeda akan menghasilkan keputusan yang berbeda, tetapi tidak sekalipun si manager mundur. Ia tetap pada job description yang harus dijalankannya sambil terus melakukan diskusi sesering mungkin.

Lambat laun, sang pemimpin pun memberikan kepercayaan kepada si manager hingga ia dapat dengan tenang menjalani hari-hari cutinya.

Namun proses ini bukanlah sebuah proses yang mudah bagi seorang pemimpin yang tidak mudah mempercayai orang lain.  Namun demikian Anda dapat menolongnya untuk menjadi seorang pemimpin yang sesungguhnya.

citra/VMN/BL/Journalist
Editor: Ruth Berliana
Image : Business Lounge Journal

Leave a Reply

Your email address will not be published.