Mendadak Politik

Mendadak Politik

(Business Lounge Journal – Essay on Global)

‘Mendadak Politik’, mungkin istilah ini yang dapat saya pinjam dari salah satu film dalam negeri untuk melukiskan keadaan sekarang, bagaimana tiba-tiba banyak orang menjadi begitu pintar membicarakan masalah politik. Bayangkan saja, mulai dari lobi kantor, lift, tempat makan, ruang kerja, bahkan sampai di toilet, ada saja yang membicarakan berita politik. Bahkan anak-anak berseragam sekolah sampai tukang parkir pun bisa membicarakan hal yang sama. Terkadang, hal ini membuat saya senyum-senyum sendiri. Sebab, teman-teman yang semula sangat tidak berminat dengan berita-berita politik, mendadak rajin mengirimkan link artikel politik, bahkan pada saat istirahat kantor pun dengan rasa ingin tahu mereka mengakses tulisan-tulisan para pengamat politik.

Ini memang sebuah fenomena yang baru. Biasanya teman-teman hanya gemar membaca tulisan-tulisan berbau bisnis, lifestyle, dan kekinian. Tetapi sekarang, ada kesukaan yang baru yang menarik bagi mereka.

Untuk menentukan pergi hari ini atau besok, mengadakan meeting hari ini atau besok, juga diawali melihat berita terlebih dahulu. Bahkan, mungkin Anda juga pernah mendengar bagaimana masalah politik dapat menentukan “friend” dan “unfriend”. Hal ini juga merambat pada urusan politik luar negeri seperti pada pilpres Amerika kemarin dengan pendapat dan pandangannya masing-masing.

Kalau ditanya, apa sih yang menjadi penyebabnya? Apa lagi kalau bukan media sosial.

Berbagai hashtag yang bertaburan, meme yang sering kali menjadi alasan untuk terpingkal-pingkal, bahkan infographics yang keren, semuanya membuat peredaran berita politik terjadi begitu pesat dan menggairahkan.

Memang sangat menarik untuk mengamati ternyata pesan yang disampaikan media dapat mempengaruhi perilaku. Tidak percaya?

Efek Obat

GlassesHal ini bukan saja baru terjadi, tetapi sejak Perang Dunia I, surat kabar telah menjadi alat propaganda yang paling efektif yang terbukti dapat mempengaruhi perilaku. Ibarat menyuntikkan obat pada tubuh pasien yang akan segera bereaksi, maka demikianlah pesan yang dipublikasikan bisa langsung masuk ke dalam jiwa penerima pesan pada masa Perang Dunia I. Begitu dasyatnya pengaruh surat kabar hingga muncul Bullet Theory yang menyamakan berita bagaikan sebuah peluru yang memiliki kekuatan besar dan luar biasa. Apabila ditembakkan, maka sasaran tidak akan bisa menghindar.

Supaya penerima pesan memberikan respon yang diinginkan, maka pesan pun akan ditembakkan berulang-ulang. Teori ini dikenal dengan teori Efek Tak Terbatas (Unlimited Effects).

Pada Perang Dunia I, berita dipublikasikan lewat surat kabar yang sangat dipengaruhi oleh keberadaan pemerintah, militer, dan pemilik surat kabar. The Guardian pernah membahas bagaimana pada masa Perang Dunia I, surat kabar telah menjadi alat propaganda untuk menyudutkan pihak lawan. Sebagai contoh saat berlangsungnya perang di Somme pada tahun 1916, bagaimana Inggris dikabarkan menang dengan gilang gemilang pada hari pertama saat menyerbu Jerman. Namun pada kenyataannya, Inggris telah kehilangan ratusan ribu tentara walaupun pada akhir perang, Inggris berhasil memperluas wilayah kekuasaannya.

Tambahan komunikasi

Pada Perang Dunia II, media tetap menjadi sarana untuk melakukan propaganda. Untuk hal ini, Presiden Amerika Franklin D. Roosevelt membentuk Office of War Information (OWI) yang kemudian menghasilkan hampir 200,000 poster dengan desain yang berbeda yang didistribusikan juga menggunakan pesawat untuk melakukan propaganda. Kalau dibandingkan dengan hari ini, mungkin dapat disamakan dengan berbagai meme yang ramai beredar untuk membentuk opini.

Hingga tahun 70-an, baik media dalam bentuk surat kabar, siaran radio, maupun televisi sudah semakin berkembang. Namun demikian masyarakat pun mengalami perkembangan yang significant sehingga efek pesan dirasa sudah tidak lagi memiliki kekuatan yang tidak terbatas. Masyarakat sudah dapat memilih mana pesan yang sesuai dan mana yang bertentangan dan mereka tidak akan memilih apa yang mereka anggap bertentangan. Pada masa ini perilaku tidak hanya terbentuk hanya dengan membaca tetapi ketika ada proses komunikasi.

Hal ini terus terjadi hingga era 80-an, ketika masyarakat semakin modern hingga perkembangan internet yang sangat pesat. Namun demikian masyarakat pun semakin memiliki beberapa variabel yang menentukan bagaimana mereka menyaring berita, seperti tingkat pendidikan, lingkungan sosial, kebutuhan, dan sistem nilai yang dianut masyarakat itu sendiri. Maraknya iklan juga telah memberikan pelajaran bagi masyarakat untuk tidak mudah percaya. Bagaimana mungkin dapat memutihkan gigi atau memutihkan kulit hanya dalam waktu singkat?

Paling cerewet

GadgetWah era ini memang membawa bangsa kita memasuki sebuah era baru. Dalam perbincangan pagi ini seorang teman mengomentari sebuah headline yang dibaca bahwa kini bangsa Indonesia dikenal paling ‘cerewet’ di dunia. Wah, menarik nih. Bagaimana tidak, sampai kini Indonesia paling banyak memproduksi kicauan bahkan sering kali menjadi trending topic. Seperti dilansir oleh detik, dalam setahun kicauan dari Indonesia dapat menembus 4.1 miliar.  Menurut saya, masih terbilang wajar sih, sebagai bangsa dengan penduduk terbanyak ke-4 jika dapat menghasilkan kicauan sebanyak itu. Walaupun masih ada Tiongkok, India, dan Amerika yang tidak menghasilkan kicauan lebih banyak.

Mencoba mengintip berapa sih pengguna social network di dunia saat ini. Statista mencatatkan bagaimana pada September 2016 terhitung sebanyak 1,7 miliar pengguna Facebook (sebagai yang terbanyak) diikuti dengan WhatsApp dan Facebook Messenger dengan masing- masing 1 miliar pengguna. Selain itu diperkirakan pada tahun 2018, jumlah pengguna social networks akan mencapai 2,4 miliar orang, sebuah angka yang cukup significant. Bayangkan saja, itu berarti melalui media sosial, Anda dapat membentuk opini lebih dari 30% penduduk dunia. Sebuah angka yang sangat fantastis.

@realDonaldTrump

Ya, media sosial kini memegang peranan sangat penting dalam membentuk opini yang kemudian mempengaruhi perilaku masyarakat. Untuk alasan ini, banyak orang rela merogoh kocek yang tidak sedikit untuk dapat melakukan ‘serangan-serangan’ melalui social network sehingga terbentuklah opini masyarakat sesuai dengan yang diharapkan. Saya yakin bahwa Anda pasti juga pernah memiliki pengalaman terprovokasi untuk sesuatu hal yang ternyata mungkin belum tentu demikian sebenarnya.

Media sosial para tokoh dunia pun selalu menjadi pusat perhatian. Tidak perlu menunggu hitungan jam, pembahasan demi pembahasan pun mengalir di dunia maya. Saya sering kali bingung dengan kecepatannya, hingga terpikir mungkin saja ada mereka yang memang pekerjaannya mengamati isi media sosial para pembesar dunia.

Donald Trump sebagai salah satu contohnya. Sering kali kicauan yang dituliskannya pada Twitter kemudian menjadi judul yang dibahas baik pada media cetak maupun online. Bahkan tidak jarang menjadi pemicu sebuah permasalahan. Misalnya saja Jumat lalu (9/12), ketika tiba-tiba kicauan Trump yang menyerang seorang pekerja pabrik di Indianapolis menjadi pemicu untuk Twitter memblokir @realDonaldTrump, demikian seperti yang banyak diberitakan media online. Namun ini bukanlah yang pertama kali, sebab beberapa kali Trump mem-posting kicauan yang kontroversial. Salah satunya pada saat ia ada dalam persaingan dengan Hillary Clinton. Tidak jarang ia mem-posting pesan-pesan yang bernada “offensive”. Jack Dorsey, pendiri Twitter, pun telah melukiskan perasaannya seperti yang dipublikasikan oleh The Guardian, bagaimana cara Trump menggunakan layanan Twitter. Di satu sisi, Dorsey bangga bagaimana layanan Twitter sangat dimanfaatkan oleh Trump, namun pada sisi lain, bagaimana kicauan negatif Trump cukup menohok baginya.

Misalnya saja pada waktu musim kampanye yang lalu, Trump sempat mengicaukan bahwa Twitter, Google, dan Facebook telah mengubur pemberitaan negatif pesaingnya terkait investigasi yang dilakukan FBI. Pernyataan ini jelas mengundang kecaman baik dari 3 perusahaan raksasa tersebut juga dari banyak netizen.

Pada akhir November kemarin, Washington Post juga sempat membahas kicauan Trump bagaimana jutaan orang telah memilih pesaingnya dengan cara illegal.

“In addition to winning the Electoral College in a landslide, I won the popular vote if you deduct the millions of people who voted illegally”

Namun tentu saja, apa yang dikicaukan Trump ini tidak mudah untuk dibuktikan dan mengundang pembahasan pada berbagai media.

Selain itu di tengah-tengah kesibukannya menyusun kabinetnya, Trump pun mengicaukan kritikan terhadap Beijing mengenai kebijakan perekonomian Tiongkok.

Tidak jarang, Trump pun mencabut kembali kicauan negatifnya.

Sehatkah?

Pro dan kontra, positif dan negatif, tidak lagi dapat didikte. Apa yang beredar di dunia maya, jelas tidak lagi dapat menjadi kendali Anda. (Kecuali Anda berada di Korea Utara yang hanya membuka akses pada 28 website). Namun yang sekarang sudah terjadi di sekitar saya, bagaimana semua orang telah mendadak menjadi politikus. Hanya bedanya, mereka tidak memiliki panggung politik. Tetapi lihat saja sisi baiknya, bagaimana semakin banyak orang yang peduli pada tanah airnya, peduli pada kebangsaannya, dan peduli pada saudara sebangsanya.

Ruth Berliana/VMN/BLJ/Editor

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.