(Business Lounge Journal – Tech) Bagaimana kecanggihan teknologi sekarang ini telah menghadirkan robot-robot dengan kemampuan yang luar biasa sudah tidak dapat dipungkiri lagi. Pada awalnya diciptakan untuk mempermudah pekerjaan manusia hingga kini mengambil alih pekerjaan manusia. (Baca: Robot Pepper akan Bertambah Cerdas untuk Membantu Manusia, Jepang Ciptakan Hotel Robot Pertama Di Dunia, Bandara Haneda Pekerjakan Eksoskeleton Robotik, Tingginya Komposisi Lansia Membuat Toyota Ciptakan Robot Pembantu, Pianis vs Robot).

Beberapa tahun yang lalu, Michael Osborne dan rekannya dari Oxford Martin School menerbitkan penelitian yang menunjukkan bahwa 47% dari pekerjaan di AS beresiko digantikan dengan tenaga kerja robot. Penelitian ini pun serta merta menimbulkan kegemparan. Namun kemudian, mereka membuat penelitian lanjutan yang menyatakan bahwa hampir 10% dari pekerjaan di negara-negara berkembang dapat diotomatisasi, hal ini mungkin tidak terlalu mengkhawatirkan bagi para pekerja.

Pada sebuah artikel yang dimuat di World Economic Forum, maka disampaikan bahwa adalah sebuah kenyataan yang tidak dapat dipungkiri bahwa kemajuan dalam algoritma dan robotika akan mengubah sebuah kenyataan pada dunia kerja bagaimana pekerjaan-pekerjaan manual dengan rutinitas yang tinggi lambat laun akan diambil alih oleh mesin.

Namun tidak demikian yang dikatakan oleh perusahaan-perusahan pembuat robot. Bagaimana robot-robot diciptakan pada dasarnya untuk membantu pekerjaan manusia dan bukan untuk mengambil alih pekerjaan manusia. “C0-bots” (Collaborative robots), demikian istilah yang mereka ciptakan. Manusia dan robot akan meningkatkan kolaborasi sehingga manusia dapat menjadi lebih produktif. Manusia mengambil bagian dalam pekerjaan-pekerjaan yang lebih stratejik sedangkan robot mengerjakan hal-hal yang lebih bersifat rutinitas.

Michael Osborne dalam penelitiannya ingin memprediksikan keterampilan-keterampilan apa yang kelak akan dibutuhkan oleh para pengusaha pada tahun 2030. Sedangkan sebuah keyakinan timbul bahwa seorang anak yang memasuki dunia sekolah pada tahun ini kelak akan memasuki dunia kerja yang akan sangat berbeda bila dibandingkan dengan dunia kerja yang kita temui saat ini. Ya, kenyataan bahwa sebagian pekerjaan yang bersifat rutin akan diambil alih oleh mesin memang tidak dapat dipungkiri, namun demikian bukan berarti manusia kelak akan benar-benar tersingkir dari dunia kerja. Melainkan harus lebih banyak lagi pekerjaan yang dibuat dan yang diperuntukkan bagi manusia.

Itulah sebabnya banyak penelitian dilakukan untuk menggambarkan pekerjaan-pekerjaan apa pada masa mendatang yang akan dilakukan oleh manusia dan apa yang akan dilakukan oleh mesin. Salah satunya adalah yang dilakukan oleh departemen tenaga kerja Amerika yang melakukan pendataan keterampilan-keterampilan apa saja yang dibutuhkan sebuah pekerjaan dan bagaimana kemungkinan pekerjaan ini pada tahun 2030. Departemen ini berupaya mengidentifikasi pekerjaan apa yang akan menjadi paling dibutuhkan pada tahun tersebut. Sebagai contoh, sebagai seorang accountant, maka ada menurut database diperlukan memiliki lebih dari 30 kemampuan dan keterampilan termasuk critical thinking, systems analysis, dan inductive reasoning. Maka dari kemampuan dan keterampilan tersebut akan dapat diidentifikasi pekerjaan mana yang kelak akan dapat digantikan oleh robot.

Dalam penelitiannya, Osborne juga mengemukakan bahwa pekerjaan pada masa mendatang akan membutuhkan keterampilan yang bervariasi dan yang lebih mendalam dan ini bukanlah sesuatu yang mudah. Itulah sebabnya para tenaga pendidik dan pembuat kebijakan perlu untuk generasi muda saat ini untuk kelak dapat menghadapi dunia kerja yang berbeda saat mereka menyelesaikan pendidikan mereka serta tidak mengandalkan ekspektasi yang ada saat ini.

citra/VMN/BL/Journalist
Editor: Ruth Berliana
Image : goodfreephotos

 

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.