(Business Lounge Journal – General Management) “Belajarlah dari kegagalan” atau “kegagalan adalah guru yang terbaik” merupakan sebuah ungkapan yang sudah biasa ditemukan. Bahkan entah berapa kali kisah kegagalan Albert Einstein, Thomas A Edison, Walt Disney, dan masih banyak tokoh lainnya menjadi kisah inspirasi yang dibawakan dalam acara-acara motivasional. Memang demikianlah adanya bahwa kegagalan sering kali menjadi sebuah materi yang menarik untuk dibahas. Namun bagaimanakah kenyataannya?

Seberapa sering kegagalan menjadi sebuah topik yang dibahas pada tempat kerja Anda? Atau malah menjadi sesuatu yang tabu untuk dibicarakan? Jika target tercapai, proyek berhasil, atau keuntungan meningkat, maka serta merta hal tersebut dibahas dalam pertemuan-pertemuan para pemimpin bisnis dan menjadi suatu kebanggaan yang diperdengarkan di mana-mana. Namun bagaimana bila terjadi sebaliknya, bukan keberhasilan melainkan sebuah kegagalan. Apakah itu menjadi sesuatu hal yang dibahas atau malah sedapat mungkin ditutup rapat-rapat supaya tidak ada yang mengetahuinya dan dianggap sebagai suatu aib?

Beberapa tahun yang silam, sebuah perusahaan besar ternama memiliki seorang pemimpin yang baru. Sebagai seorang pemimpin yang baru, seperti biasa, ia pun akan memiliki strategi yang baru. Salah satu strategi unggulan yang dimilikinya adalah untuk melakukan ekspansi dengan membuka cabang sebanyak-banyaknya. Dalam sekejap terjadilah rekrutmen besar-besaran dan dalam waktu setahun telah puluhan cabang dibuka. Tetapi ternyata kenyataan tidak sesuai dengan yang diperkirakan, sebab pasar yang dibidik tidak mengenai sasaran. Pendapatan tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan. Alhasil, dalam tahun berikutnya terjadi penutupan cabang besar-besaran. Sebuah kegagalan yang sebenarnya bisa saja terjadi dalam dunia bisnis. Tetapi seperti sebuah aib, hal ini tidak pernah dibuka apalagi dibahas. Hanya level direksi saja yang mengetahui persis apa yang sebenarnya terjadi, sedangkan mereka yang ada pada level bawah tidak mengerti persis dan hanya berkata bahwa zaman sedang sulit, perusahaan mengadakan penghematan besar-besaran.

Jika demikian yang terjadi, jika sebuah kegagalan tidak pernah dibukakan, maka bagaimana dapat kita mengatakan bahwa kegagalan adalah guru yang terbaik?

Memang benar jika dikatakan bahwa mengakui kegagalan adalah sebuah sikap ksatria dan ini sangat penting untuk dimiliki oleh seorang pemimpin. Apa salahnya jika kegagalan menjadi suatu yang dibukakan? Tidak mudah memang, tetapi apabila ini menjadi sebuah budaya perusahaan, maka saya jamin setiap orang akan mengambil pembelajaran untuk tidak melakukan kesalahan yang sama. Akibatnya? Perusahaan menjadi sebuah perusahaan yang selalu berinovasi dan tidak akan ada keberhasilan tanpa sebuah inovasi.

Apa hubungannya berinovasi dengan belajar dari kegagalan?

Perusahan yang berinovasi tidak akan pernah diam, melainkan akan terus aktif. Aktif yang bagaimana? Aktif untuk terus bergerak mencapai visi yang dimilikinya. Di dalam pergerakannya itu sudah pasti akan menemui berbagai kegagalan, tetapi kegagalan yang dialaminya tidaklah menjadi sesuatu yang menakutkan melainkan menjadi guru yang membuatnya belajar untuk dapat sampai pada cita-citanya.

Penting untuk memiliki budaya untuk belajar dari kegagalan. Hal ini akan membawa sebuah atmosfir yang membuat setiap orang bahkan yang ada pada level terendah sekali pun menghargai arti sebuah pembelajaran. Bayangkan saja jika setiap tim dalam skala kecil memiliki budaya yang tidak “jaim – jaga image” untuk membuka kegagalan yang ada dan mempelajarinya bersama-sama sehingga pada kemudian hari tidak ada lagi yang mengulanginya. Maka dapat dipastikan semua orang akan semakin pintar dan bijak untuk dapat mengambil keputusan untuk mencapai visi perusahaan yang telah ditetapkan.

ruth_revisiRuth Berliana/VMN/BL/MP Human Capital Development Division, Vibiz Consulting, Vibiz Consulting Group

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.