(Business Lounge Journal – General Management) Kesuksesan maupun kegagalan seseorang dalam menjalani kehidupan tidak luput dari keputusan yang pernah diambilnya. Dalam dunia bisnis, ketepatan mengambil keputusan merupakan hal yang sangat krusial yang akan menentukan keberhasilan dan keberlanjutan bisnis tersebut.

Persoalannya, bagaimana cara membedakan keputusan yang baik dengan keputusan yang buruk?

Keputusan yang baik adalah keputusan yang diambil secara logis dengan mempertimbangkan seluruh informasi yang tersedia, termasuk alternatif solusi dan menerapkan pendekatan analisa kuantitatif yang tepat. Sedangkan keputusan yang buruk adalah sebaliknya, yaitu keputusan diambil secara tidak logis, tidak menggunakan seluruh informasi yang tersedia, tidak mempertimbangkan alternatif solusi, dan tidak menggunakan pendekatan analisa kuantitatif yang tepat.

Kadang keputusan yang baik memberikan hasil yang tidak diinginkan atau yang tak terduga. Namun, jika diambil secara benar, keputusan tersebut tetap merupakan keputusan yang baik. Begitu juga sebaliknya, ketika seseorang melakukan pengambilan keputusan yang buruk, tetapi dia beruntung dan mendapatkan hasil yang diinginkan, keputusan tersebut tetap merupakan keputusan yang buruk.

Decision theory atau teori keputusan adalah sebuah pendekatan analitis dan sistematik dalam pengambilan keputusan. Berikut adalah lima langkah yang dapat membantu Anda dalam mengambil suatu keputusan:

Mendefinisikan permasalahan dengan jelas di awal

Langkah awal adalah mendefinisikan permasalahan secara jelas di awal. Contohnya, perusahaan sepatu ABC ingin meningkatkan penjualan dengan membuat produk baru. Mereka ragu untuk menentukan apakah mereka harus menambah satu unit produksi baru atau tidak.

Tulis semua kemungkinan alternatif solusi

Selanjutnya menuliskan semua kemungkinan alternatif solusinya. Perusahaan ABC memutuskan bahwa alternatif solusi untuk permasalahan tersebut ada tiga, yaitu membangun sebuah pabrik skala besar, membangun sebuah pabrik skala kecil, atau tidak membangun pabrik sama sekali.

Sebuah kesalahan yang sering dilakukan pengambil keputusan adalah mengabaikan satu alternatif solusi yang penting. Meskipun tidak membangun pabrik sama sekali merupakan alternatif solusi yang tidak diinginkan atau bernilai kecil, tetap saja alternatif solusi tersebut bisa saja menjadi pilihan terbaik.

Identifikasi kemungkinan hasil yang akan diperoleh (state of nature)

State of nature adalah kemungkinan hasil yang akan terjadi saat pengambil keputusan tidak dapat mengontrolnya. Perusahaan ABC mengidentifikasi bahwa hanya akan ada dua kemungkinan hasil yang akan diperoleh, yaitu respon pasar positif terhadap produk baru yang akan diluncurkan, dalam artian ada permintaan yang tinggi terhadap produk baru tersebut, atau bisa saja respon pasar negatif. Artinya hanya ada sedikit permintaan akan produk baru.

Tulis semua hasil atau payoff (biasanya keuntungan) untuk setiap kombinasi alternatif solusi dan state of nature

Langkah berikutnya adalah mengidentifikasi semua hasil untuk setiap kombinasi alternatif solusi dan state of nature. Perusahaan ABC telah mengevaluasi potensi keuntungan yang akan terjadi. Dalam kondisi pasar positif, mereka mengkalkukasi bahwa kemungkinan keuntungan yang dia dapat dengan membangun pabrik sekala besar adalah Rp200 juta.

Nilai Rp200 juta itu merupakan nilai kondisional yang merupakan keuntungan yang akan diperoleh oleh perusahaan ABC jika mereka membangun pabrik dalam skala besar dan respon pasar yang positif. Namun, jika mereka membangun pabrik skala besar dan respon pasar negatif, mereka akan mengalami kerugian Rp180 juta.

Pabrik skala kecil akan menghasilkan keuntungan Rp100 juta jika respon pasar positif, namun akan merugi Rp20 juta jika respon pasar negatif.

Pilihan terakhir jika tidak membangun pabrik sama sekali, perusahaan tersebut akan memperoleh keuntungan Rp0, baik dalam kondisi pasar positif maupun negatif. Identifikasi hasil untuk setiap kombinasi dii atas lebih mudah dipahami dan jika memakai tabel berikut:

Mengambil Keputusan Bisnis dengan Pendekatan Kuantitatif Podomoro Univ

Pilih salah satu model teori keputusan dan terapkan model tersebut untuk mengambil keputusan

Langkah terakhir adalah memilih salah satu model teori keputusan dan menerapkannya untuk mengambil keputusan. Misalkan, perusahaan ABC berada dalam kondisi yang tidak pasti, mereka mempunya lima opsi model teori yang bisa diterapkan dalam situasi tersebut, yaitu optimistic model, pessimistic model, Hurwicz criterion, equally likely, dan minimax regret.

Kali ini saya memberi contoh sederhana dalam pengambilan keputusan menggunakan model optimis dan pesimis. Model optimis adalah model saat hasil terbaik dalam hal ini adalah keuntungan paling besar. Dalam kasus ini, jika menggunakan model optimis, perusahaan ABC akan membangun pabrik skala besar karena akan memiliki memliki potensi keuntungan paling besar, yaitu Rp200 juta.

Sedangkan ketika menggunakan model pesimis, yang dipilih adalah yang terbaik dari yang terburuk. Dari semua kemungkinan terburuk, alternatif solusi terbaik adalah tidak membangun pabrik sama sekali. Lebih baik tidak mendapat keuntungan apapun daripada memiliki potensi kerugian Rp180 juta dengan membangun pabrik skala besar atau rugi Rp20 juta dengan membangun pabrik skala kecil.

Demikianlah ilustrasi pendekatan kuantitatif dalam pengambilan keputusan bisnis. Selamat mencoba!

Banguning Asgha /VMN/BL/Podomoro University
Editor: Ruth Berliana

Leave a Reply

Your email address will not be published.