(Business Lounge Journal – General Management) Michael Porter, ahli manajemen stratejik dari Harvard, sekarang ini banyak menulis dan berbicara tentang Social Business. Sesuai dengan namanya memang berdampak sosial tapi tetap sebuah bisnis atau memiliki sumber pendapatan, memiliki keuntungan. Konsep ini saya pandang sebagai sebuah terobosan bagi perusahaan yang ingin berkontribusi bagi masyarakat sekitarnya. Contohnya adalah pada saat Carrefour mengeluarkan program Carrefour Quality Line Program, bentuknya para petani sekitar toko diberikan pendampingan untuk memiliki hasil tanaman – bisa sayuran atau buah – dengan standar Carrefour dan akan menjadi pasokan bagi pelanggan perusahaan. Saya pergi ke Aceh dan mengajarkan petani kopi bagaimana melaksanakannya, dengan indikator tetap berbisnis namun perusahaan melakukan kegiatan sosial kemasyarakatan. Perusahaan susu Nestle juga melakukannya, Nestle membina keluarga-keluarga di sekitarnya memiliki sapi dengan pendampingan pemeliharaan hingga menghasilkan susu berkualitas standar Nestle. Nestle mengambil seluruh susu hasil keluarga-keluarga ini sebagai pasokan bagi perusahaan, menciptakan keuntungan bagi perusahaan dan memberikan dampak sosial bagi masyarakat dengan hidup yang lebih sejahtera.

Social Business setingkat lebih tinggi dari corporate social responsibility (CSR), dengan keuntungan yang dimiliki, membuat kegiatan sosial masyarakat mempunyai sumber dana yang bisa dipakai untuk pengembangan masyarakat selanjutnya. Baik Carrefour maupun Nestle menggunakan keuntungannya kembali kepada masyarakat. Perusahaan yang melaksanakan program CSR umumnya tidak memiliki keuntungan yang dihasilkan dan menggunakan biaya yang dialokasikan tanpa adanya pengembalian yang diharapkan. Perbedaan ini membuat perusahaan dengan bisnis sosial memikirkan bagaimana menerapkan seluruh kegiatan sosialnya sebagai kegiatan yang berkesinambungan. Penerima hadiah nobel dari Bangladesh, Muhammad Yunus, juga aktif mengembangkan bisnis sosial ini. Model kredit bagi orang miskin yang terkenal dengan Grameen Bank diterapkan Yunus dengan pendekatan bisnis sosial, pengembalian kreditnya membuat keuangan Garmeen Bank semakin besar dan mampu membantu banyak masyarakat lainnya.

Saya masih mendampingi perusahaan pakaian jadi yang mau menerapkan hal ini, melalui pemberian mesin jahit kepada keluarga-keluarga di sekitarnya perusahaan menciptakan keluarga-keluarga yang produktif menghasilkan pakaian tanpa meninggalkan rumah. Penghasilan bisnis ini menjadi sumber perusahaan, untuk membantu keluarga-keluarga lain di sekitarnya, dan sekarang ini semakin besar. Bila tertarik menerapkannya, temukan terlebih dahulu produk atau jasa yang dimiliki perusahaan yang mempunyai alur keuntungan bagi pengembangan bisnis, seperti Nestle punya susu, Carrefour punya sayur dan buah, Garmeen Bank punya kredit, atau perusahaan pakaian jadi yang punya pakaian jadi, dan lain-lain. Buatlah bisnis model dari produk dan jasa tadi dengan menempatkan fungsi masyarakat di dalamnya, penting di dalamnya mengetahui revenue dan cost stream yang menjadi sumber pertumbuhan bisnis sosial ini dan kesejahteraan masyarakat. Mulailah dengan melakukan penerapannya secara hati-hati agar tidak membuang biaya percuma, ambilah satu atau dua proyek dengan skala yang kecil dan lakukan standarisasi saat sudah matang bisnis modelnya, dan mulailah terapkan di masyarakat sekitar, maka perusahaan mengalami keuntungan dan masyarakat menerima kesejahteraan yang lebih meningkat.

Fadjar Ari DewantoFadjar Ari Dewanto/VMN/BD/MP Business Advisory Division, Vibiz Consulting, Vibiz Consulting Group

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.