(Business Lounge Journal – Manage Your Business) Bisnis keluarga biasanya dimulai dari usaha pribadi seorang bapak atau ibu yang memulainya kecil dan hingga menjadi besar. Mama Leon, sebuah perusaaan tekstil di Indonesia yang sudah cukup besar dengan ribuan karyawan, memulai bisnisnya dengan satu buah mesin jahit yang digunakan untuk melayani mereka yang membutuhkan baju kebaya Bali. Ketika kualitas jahitannya diketahui oleh wisatawan asing, mulailah permintaan dari luar negeri berdatangan. Perusahaan pun berkembang menjadi besar, memperkerjakan penduduk lokal untuk menjahit dan penghasilan yang didapat cukup memberikan kesejahteraan keluarga dan masyarakat sekitar. Contoh lain, Himalaya Everest Jaya yang menjadi distributor perusahaan Jepang Sumitomo, mulai berkembang dengan jualan sang bapak ke perusahaan kelapa sawit yang waktu itu sedang membutuhkan mesin untuk kelapa sawit. Ketika Sumitomo melihat hal ini, maka distribusi mesinnya melalui Himalaya dan perusahaan berkembang menjadi besar, berbagai jenis mesin yang semakin banyak dijual seantero Indonesia. Lain lagi cerita Olympic group yang membuat dan memasarkan perabotan keluarga, perusahaan yang sudah puluhan tahun dibangun ini dimulai dari kongsi kakak beradik dan akhirnya sekarang menjadi perusahaan favorit di Indonesia yang sudah melebarkan sayap ke bisnis-bisnis lain. Mungkin contoh perusahaan keluarga di Indonesia lainnya serupa dengan tiga contoh perusahaan keluarga yang saya sampaikan, berkembang dimulai dari seorang diri hingga menjadi perusahaan besar.

Perusahaan-perusahaan keluarga yang ada di Indonesia yang didirikan pada akhir abad 20 sekarang ini sedang mengalami transisi, sebab kebanyakan generasi penerus mereka, berpendidikan tinggi dan memiliki mimpi yang berbeda dengan orang tua mereka. Paling tidak ada tiga mimpi mereka, pertama perusahaan diharapkan menghasilkan keuntungan yang lebih cepat dan besar. Kedua bahwa cara manajemen yang digunakan diganti dengan manajemen modern yang mereka terima di sekolah mereka. Ketiga kebanyak mereka menginginkan perusahaan masuk ke pasar modal untuk mendapatkan pemasukan modal yang lebih besar.

Mimpi yang pertama, menurut saya bisa dicapai bila tetap di bisnis yang sudah memiliki customer base yang cukup. Sayang sekali bila customer base yang sudah besar dirombak dan digantikan bisnis baru. Banyak private equity membeli perusahaan yang jenis ini karena bisa dikembangkan dengan business model yang bermacam-macam dan menguntungkan. Namun seringkali banyak generasi penerusnya ingin beralih ke bisnis lain karena tidak sabar dengan hasilnya, dan juga kecenderungan ingin memiliki bentuk bisnis sendiri. Mimpi yang kedua seorang pemuda yang baru belajar manajemen modern tentu jengah dengan cara kerja tradisional yang dianggap usang. Mereka ingin merubahnya, hal ini tidak salah namun juga tidak mudah, sebab berbenturan dengan manusia yang sering kali seumur dengan pendiri perusahaan yang membanggakan kemampuan mereka di masa lampau. Mimpi ketiga unuk masuk ke pasar modal, lebih sebagai citra perusahaan yang sudah mapan, dan terkait dengan dua mimpi diatas, bila sudah dapat dicapai tentu mimpi yang ketiga bisa terwujud. Antara mimpi dan kenyataan ada kerja keras yang harus dilakukan, tentang hal ini generasi penerus dapat belajar dari orang tua mereka.

Fadjar Ari DewantoFadjar Ari Dewanto/VMN/BD/MP Business Advisory Division, Vibiz Consulting, Vibiz Consulting Group

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.