(Business Lounge Journal – Lead and Follow) Mengenai servant leadership pernah beberapa kali dibahas. Bagaimana tipe kepemimpinan yang melayani ini dicetuskan pertama kali oleh Robert K Greenleaf pada tahun 1970 dalam esainya yang berjudul “pelayan sebagai pemimpin” dengan menciptakan istilah “pemimpin adalah seorang pelayan”.

Sedangkan Bernhard Sumbayak, founder & chairman Vibiz Consulting, yang juga adalah pembuat modul-modul Followership and Leadership, menyatakan bahwa ada 2 aspek yg diperlukan oleh Servant leadership untuk menghasilkan synergi dan efektifitas kerja yang hebat yaitu:

1. Membuat suasana dan nilai-nilai kekeluargaan berlaku dalam interaksi sehari-hari, ini paling tepat diterapkan dalam perusahaan lokal Indonesia. Ketika suasana kekeluargaan ini mendominasi budaya suatu perusahaan, maka kepemimpinan yang melayani akan menjadi lebih mudah dan sangat berpengaruh untuk meningkatkan potensi semua karyawan yang ada.

2. Berilah contoh senantiasa, artinya menjadi panutan. Secara sederhana, misalnya saat menginginkan semua pegawai memiliki kebiasaan tersenyum, maka sang pemimpin memulai tersenyum terlebih dahulu kepada karyawannya. Hal ini akan menstimulir mereka untuk magadopsi kebiasaan-kebiasaan kerja yang dengan sengaja dibentuk dan dikembangkan oleh pimpinan perusahaan tersebut. Dengan menjadi contoh, maka seorang pemimpin menunjukkan keinginan untuk melayani, merendahkan diri, dan men-support penuh untuk menghargai anak buah.

Salah satu contoh seorang pemimpin yang pernah Business Lounge Journal interview adalah Purnomo Prawiro, pendiri layanan transportasi Bluebird. (Baca: Learning From BLUEBIRD: Servant Leadership). Purnomo menerapkan servant leadership dalam kepemimpinannya, sehingga ia akan berupaya untuk mengerti semua karyawannya satu per satu dan tidak hanya terfokus dengan keuntungan yang diterima perusahaan.

Servant Leadership pada dasarnya menunjukkan bagaimana para pemimpin dalam mengambil keputusan untuk mencapai keberhasilan akan selalu memperhatikan pengikutnya walaupun dalam melakukannya sang pemimpin akan tetap menempatkan kepentingan pelanggan dan vendor sebagai yang utama dengan menciptakan budaya “rela berkorban” untuk mencapai yang terbaik.

Namun di sisi lain sang pemimpin akan dapat menjadi contoh yang baik bagi para pengikutnya apabila sang pemimpin dapat menunjukkan prestasinya. Penting untuk digarisbawahi bahwa Servant Leadership harus diikuti dengan kinerja yang baik serta prestasi yang dapat dihasilkan oleh si pemimpin. Kebalikannya power leadership hanya akan mementingkan hasil tanpa memperdulikan bagaimana keberadaan pengikutnya dan bagaimana para pengikutnya dapat berupaya untuk menghasilkan hasil yang terbaik. Hal yang terpenting adalah bagaimana keinginan dan kepentingannya dapat tercapai. Sementara pemimpin yang menerapkan servant leadership tidak hanya berorientasi kepada hasil namun juga kepada para pengikutnya. Sehingga dapat dikatakan bahwa ia memiliki tanggung jawab yang double.

Bila melihat karakter para millennial yang perduli dengan lingkungan, peduli dengan sekeliling maka leadership style ini dapat dikatakan seiring dengan kepemimpinan mereka. Bagaimana mereka tidak hanya terpaku kepada hasil namun juga kepada individu yang terkait di dalamnya.

citra/VMN/BL/Journalist
Editor: Ruth Berliana
Image : Business Lounge Journal

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.