Shoes: Pleasure and Pain

(Business Lounge – Art) Victoria and Albert Museum sedang menyelenggarakan sebuah pameran tentang sepatu yang diberi judul Shoes: Pleasure and Pain. Sebuah pameran sepatu yang menghadirkan sepatu ekstrim dari seluruh dunia. Sekitar 200 pasang sepatu mulai dari sandal yang didekorasi dengan daun emas murni yang berasal dari Mesir kuno sampai dengan sepatu yang memiliki desain paling rumit yang dikerjakan oleh pelaku seni kontemporer dihadirkan di sini.

Chopines, about 1600, © Victoria and Albert Museum, London

Chopines, about 1600, © Victoria and Albert Museum, London

Pameran ini mengangkat adanya budaya yang signifikan serta transformasi yang terjadi pada sepatu sekaligus meneliti perkembangan terbaru dalam teknologi alas kaki sehingga terciptalah berbagai macam jenis sepatu termasuk sepatu yang memungkinkan posisi  tumit menjadi lebih tinggi dengan bentuk dramatis. Berbagai contoh sepatu pun dihadirkan baik oleh pemakai sepatu terkenal dan kolektor di samping berbagai sepatu bersejarah nan menyilaukan.

 

Wedding toe-knob paduka Silver and gold over wood India, 1800s V&A: LOAN: CALAM.2:1+2 © Victoria and Albert Museum, London

Wedding toe-knob paduka Silver and gold over wood India, 1800s V&A: LOAN: CALAM.2:1+2 © Victoria and Albert Museum, London

Pale-blue shoes, photographed on the mantelpiece in The Norfolk House Music Room, the British Galleries at the V&A, London, 2014 Silk satin with silver lace and braid England, 1750s V&A: T.70+A—1947; M.48+A—1962 (diamond and sapphire buckles. © Victoria and Albert Museum, London

Pale-blue shoes, photographed on the mantelpiece in The Norfolk House Music Room, the British Galleries at the V&A, London, 2014 Silk satin with silver lace and braid England, 1750s V&A: T.70+A—1947; M.48+A—1962 (diamond and sapphire buckles. © Victoria and Albert Museum, London

Sebagai informasi,  Victoria and Albert Museum adalah museum terbesar di dunia untuk seni dekoratif dan desain yang memiliki koleksi permanen lebih dari 4,5 juta benda. Museum ini didirikan pada tahun 1852 dan dinamai Ratu Victoria dan Pangeran Albert berlokasi di distrik Brompton Royal Borough of Kensington dan Chelsea, di daerah yang telah dikenal sebagai “Albertopolis” karena hubungannya dengan Pangeran Albert, Albert Memorial, dan lembaga-lembaga budaya utama yang ia dikaitkan. Ini termasuk Museum Sejarah Alam, Museum Sains dan Royal Albert Hall.

Chopines, photographed in the Medieval and Renaissance Galleries at the V&A, London, 2014, Punched kid leather over carved pine, Venice, Italy, c.1600 V&A: T.48+A—1914 © Victoria and Albert Museum, London

Chopines, photographed in the Medieval and Renaissance Galleries at the V&A, London, 2014, Punched kid leather over carved pine, Venice, Italy, c.1600 V&A: T.48+A—1914 © Victoria and Albert Museum, London

Coxton Shoe Co. Ltd (active in early 20th century), Men’s shoes Gilded and marbled leather Northamptonshire, England, c.1925 V&A: T.52:1+2—1996 © Victoria and Albert Museum, London

Coxton Shoe Co. Ltd (active in early 20th century), Men’s shoes Gilded and marbled leather Northamptonshire, England, c.1925 V&A: T.52:1+2—1996 © Victoria and Albert Museum, London

Transformasi

Alas kaki yang luar biasa selalu muncul dalam berbagai cerita rakyat di seluruh dunia. Dalam berbagai cerita tersebut, sering kali sepatu digunakan untuk mengungkapkan jati diri seseorang. Sebagai contoh misalnya Cinderella yang berbudi luhur yang kemudian berubah nasib oleh karena kisah sepatunya yang tertinggal. Belum lagi kisah dongeng seorang yang bernama Karen dengan sepatu merahnya.

Sedangkan sepatu dalam dongeng telah dapat memberikan kekuatan bagi pemakainya sehingga memberikan kemampuan untuk terbang, melompat, dan lari berputar. Masih ingat cerita seekor kucing dengan sepatu boot-nya? Sedangkan cerita rakyat modern telah membawa keajaiban di lapangan sepak bola sehingga sepasang sepatu dapat mengubah kehidupan pemakainya.

Namun hari ini, sepatu telah melewati berbagai transformasi terutama dalam hal kualitas sehingga memberikan nilai jual tersendiri.

Caroline Groves (b.1959) ‘Parakeet’ shoes Leather, silk satin, solid silver talons and heel tips, and feathers England, 2014. Photography by Dan Lowe

Caroline Groves (b.1959) ‘Parakeet’ shoes Leather, silk satin, solid silver talons and heel tips, and feathers England, 2014. Photography by Dan Lowe

Roger Vivier (1907—98) for Christian Dior (1905—57) Evening shoes Beaded silk and leather France, 1958—60 V&A: T.149+A—1974. Image © Victoria and Albert Museum, London

Roger Vivier (1907—98) for Christian Dior (1905—57) Evening shoes Beaded silk and leather France, 1958—60 V&A: T.149+A—1974. Image © Victoria and Albert Museum, London

Status

Selama berabad-abad di seluruh dan budaya, alas kaki telah menjadi simbol status sosial yang tinggi. Sehingga sering kali sepatu tampil dengan dekorasi dan bentuk yang tidak praktis. Uniknya, semakin tampil tidak praktis maka semakin menandakan bahwa si pemakai bukan dari golongan pekerja kasar. Sepatu juga akan mengatur bagaimana si pemakai boleh bergerak, dan bagaimana mereka dilihat dan didengar.

Desain sepatu telah menciptakan banyak simbol-simbol yang mengidentifikasi kejayaan dan hak istimewa, mulai dari hak berwarna merah sepatu milik Louis XIV sampai bordir yang rumit pada sepatu yang dikenakan elit Iroquois. Sepatu mereka ini, seperti sepasang hasil karya Christian Louboutin di zaman sekarang, menunjukkan bahwa pemakainya berasal dari lingkungan eksklusif.

Maka sepatu dapat dikatakan sebagai bagian dari sebuah pertunjukan tanpa memperhatikan tujuan praktisnya. Karena tampilan sepasang sepatu, penampilan pemakainya pun dapat berubah bagaikan raja atau ratu.

Pairs of shoes for bound feet Embroidered silk and cotton over wood China, late 1800s V&A: FE.89, 96, 87, 93, 97, 92, 90:1+2—2002. © Victoria and Albert Museum, London.

Pairs of shoes for bound feet Embroidered silk and cotton over wood China, late 1800s V&A: FE.89, 96, 87, 93, 97, 92, 90:1+2—2002. © Victoria and Albert Museum, London.

Atalanta Weller (b.1978) ‘Scotty’ boots Leather and polyurethane Designed in England, made in Portugal, 2010 V&A: T.94:1+2—2011. Image © Victoria and Albert Museum, London.

Atalanta Weller (b.1978) ‘Scotty’ boots Leather and polyurethane Designed in England, made in Portugal, 2010 V&A: T.94:1+2—2011. Image © Victoria and Albert Museum, London.

Pembuatan Sepatu

Membuat sepatu melibatkan proses desain, pembentukan, dan melibatkan teknologi. Menggabungkan keahlian tradisional dan inovasi teknologi. Menciptakan alas kaki masih termasuk proses penting yang telah berlangsung sejak ratusan tahun yang lalu, tetapi di era globalisasi telah menyebabkan perubahan besar dalam produksi, perdagangan dan konsumsi sepatu, dari handmade menjadi produksi massal.

Untuk memenuhi perubahan selera klien nan modis, desainer menggunakan keterampilan dan kecerdikan untuk menciptakan gaya inovatif dan untuk menghadapi tantangan struktural alas kaki yang ekstrim. Imajinasi kreatif adalah titik awal dari desain dan produk yang menguntungkan adalah tujuan akhir.

Two-teethed geta, About 1920, Japan, Lacquered wood, silk,, rabbit fur, grass and metal, V&A: FE.11:1, 2-2015

Two-teethed geta, About 1920, Japan, Lacquered wood, silk,, rabbit fur, grass and metal, V&A: FE.11:1, 2-2015

Spiky shoes, 1974, London, Malcolm McLaren and Vivienne Westwood, From the ‘Sex’ collection, Leather and metal, Purchased with the assistance of the Art Fund, the Friends of the V&A, the Elsbeth Evans Trust, and the Dorothy Hughes Bequest, V&A: T.82:1, 2-2002.

Spiky shoes, 1974, London, Malcolm McLaren and Vivienne Westwood, From the collection, Leather and metal, Purchased with the assistance of the Art Fund,
the Friends of the V&A, the Elsbeth Evans Trust,
and the Dorothy Hughes Bequest, V&A: T.82:1, 2-2002.

Obsesi

Sepatu adalah telah menjadi komoditas dan obyek koleksi. Banyak orang mendambakan sepatu mewah sebagai lambang status. Hari ini, sepasang sepatu buatan Jimmy Choo atau Prada lebih didambakan dari item pakaian lainnya. Menghabiskan uang dalam jumlah besar untuk membeli sepasang sepatu menjadi sesuatu yang menyenangkan. Bukan sebagai aset atau investasi melainkan untuk sebuah kesenangan.

Pameran sepatu ini disponsori oleh peritel dan produsen sepatu dari Inggris, Clarks sebagai bagian dari perayaan 190 tahun merek tersebut dan akan berlangsung hingga 31 January 2016.

citra/VMN/BL/Journalist
Editor: Ruth Berliana
Image : Victoria and Albert Museum
Sumber: Victoria and Albert Museum

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.