(Business Lounge – Global News) Adanya persepsi bahwa pekerja teknologi disebut sebagai “geeks” bukanlah hal yang baru. Kata geeks pada  awalnya digunakan untuk menggambarkan orang yang eksentrik atau non-mainstream. Namun saat ini digunakan untuk menggambarkan seorang ahli atau penggemar atau orang terobsesi dengan hobi atau mengejar intelektual, dengan makna yang negatif karena dianggap terlalu intelektual. Walaupun dalam beberapa kesempatan, kata ini juga dapat dipakai menjadi sumber kebanggaan karena maknanya telah berkembang ke konotasi “seseorang yang tertarik pada sesuatu subjek (biasanya dalam intelektual atau kompleks) untuk kepentingan diri sendiri”.

Enggan Masuk Perguruan Tinggi

Saat ini di Amerika terjadi sebuah fenomena bagaimana para orang muda yang memiliki kemampuan lebih dalam ilmu pengetahuan justru melewatkan kesempatan untuk melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi dan memilih untuk mengejar keinginannya menjadi pemain basket profesional untuk mendapatkan uang yang banyak.

Pada tahun 2015 dapat dikatakan bahwa orang-orang muda di Amerika lebih berkecenderungan untuk memilih membangun usaha-usaha mengikuti jejak “Facebook Inc.” atau bergabung dengan kelompok basket NBA daripada melanjutkan ke perguruan tinggi . Mereka memiliki persepsi bahwa para pekerja teknologi (terutama mereka yang bekerja pada bidang IT) sebagai “geeks”. Anak muda Amerika untuk lebih tertarik menjadi pengguna teknologi daripada menjadi pencipta. Persepsi tersebutlah yang menjadi alasan utama mengapa terjadi ketidak seimbangan dalam industri teknologi.

Dari sebuah proyek yang dilakukan oleh CNN maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pekerja teknologi memang dianggap sebagai geeks dan kebanyakan geeks adalah laki-laki! Sebuah survei yang dilakukan oleh Stevens Institute for Technology mungkin dapat membantu menjelaskan mengapa.

Pembimbing Geek

Stevens Institute for Technology melakukan sebuah survei yang meneliti bagaimana di New Jersey para pembimbing yang memiliki kualitas mendidik yang baik memahami karir di bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics). Mereka ini dapat memiliki pengetahuan tersebut dengan beberapa cara, yaitu mendapatkan langsung dari karir teknologi mereka, mengandalkan hanya pada informasi yang diperoleh dari sesama guru, melalui pelaksanaan lokakarya pengembangan profesional dan media untuk membentuk opini tentang pekerjaan teknologi. Rata-rata sebanyak 87% dari mereka mengatakan bahwa mereka tidak meluangkan waktu untuk memberikan arahan karir kepada para siswa mereka dalam bidang STEM.

The College Board Advocacy dan Policy Center beberapa tahun yang lalu bertanya kepada 5.300 sekolah menengah dan pembimbing sekolah tinggi mengenai peran mereka. Hanya 42% dari konselor sekolah tinggi yang mengalokasikan waktu untuk “konseling kerja dan penempatan kerja.” Selain itu 95% dari pembimbing mengatakan mereka akan sangat beruntung bila mendapatkan “dukungan tambahan” dalam pekerjaan mereka.

Menurut Pusat Pendidikan Statistik Nasional dari Departemen Pendidikan Amerika Serikat, terdapat 98.328 sekolah umum di Amerika. CompTIA, sebuah organisasi sertifikasi industri, melaporkan ada 6,5 juta pekerja teknologi profesional di Amerika. Bila dirata-ratakan maka seharusnya ada sekitar 66 pekerja teknologi yang tersedia untuk setiap sekolah umum di Amerika Serikat.

Bertambahnya Calon Pekerja IT yang Berada di Bawah Bimbingan Para Geek

Bayangkan dampaknya apabila para profesional cyber security dan data scientists masa depan memiliki talent pipeline sehingga jutaan pekerja teknologi dan puluhan ribu chief information officer dapat menjangkau para konselor sekolah menengah atau sekolah tinggi dengan memberikan bimbingan pada periode musim gugur ini. Mereka dapat memberikan penawaran untuk menjadi mentor bagi para konselor dan mahasiswa yang tertarik, dalam memberik masukan dalam informasi terkait, misalnya  seperti apa karir di bidang teknologi informasi, apa pekerjaan yang tersedia di sektor teknologi informasi, berapa gaji yang didapatkan pekerja teknologi dan apa proyeksi pertumbuhan pekerjaan di lapangan selama 10 tahun ke depan .

Berbekal dengan informasi yang menyerupai 2015 Robert Half International “Salary Guide for Technology Professionals”, tidak akan membutuh waktu lama untuk para relawan pekerja teknologi tersebut untuk mematahkan mitos ‘geeks’ yang ada pada dunia kerja teknologi. Apa yang diperlukan adalah menunjukkan bahwa seorang Big Data engineer saja dapat memperoleh bayaran sebesar USD 168.000 setahun atau sekitar IDR 182 juta per bulan. Sedangkan seorang atlit profesional di Amerika Serikat mendapatkan bayaran sekitar USD 39.000 per tahun atau sekitar IDR 44 juta per bulan.

Alvin Wiryo Limanjaya/VMN/BL/Contributor
Editor: Ruth Berliana
Image: wikipedia

Leave a Reply

Your email address will not be published.