Obsesi Silicon Valley

Obsesi Silicon Valley (3)

(Business Lounge – Inspiring)

Paradise and Technology Park di Iran

Dalam perjumpaan dengan Mohamad Nasir kali ini, ia menceritakan bagaimana hasil kunjungannya beberapa waktu yang lalu ke Iran dan menemukan bagaimana negara yang sebenarnya adalah Negara yang diembargo oleh Amerika itu telah berjuang untuk survive melalui teknologinya dan berhasil. “Padahal logikanya negara yang diembargo seharusnya tidak bisa berkembang, tetapi mereka memiliki Paradise and Technology Park yang berlokasi di Teheran.” Demikian dikatakan M. Nasir.”Berdiri pada tahun 2004 dan hingga sekarang (hampir 11 tahun) telah menghasilkan 1000 industri,” lanjut menristekdikti.

Tidak hanya itu, kemajuan teknologi ini pun telah mempengaruhi income per kapita Iran. Saat ini income per kapita Indonesia sekitar $3,400 per tahun dibandingkan Iran $13.700. “Kita harus me-manage dengan baik sumber daya yang baik,” tutur M. Nasir.

Dalam hal menimba ilmu, pemerintah Iran menerapkan peraturannya sendiri, bahwa mereka yang ingin melanjutkan perguruan tinggi ke luar Iran hanya boleh bila mengambil jurusan science dan teknologi baik fisika, kimia, biologi, matematika, dan engineering. Sebagai hasil saat ini Iran dapat mengembangkan pembangkit listrik tenaga nuklir yang sebenarnya sangat bermanfaat untuk menghemat biaya listrik. “Dengan PLTN tersebut bbm yang semula 19% per kwh tapi dengan nuklir hanya 3,4% sampai 5% per kwh. Ini sangat efisien,” demikian penjelasan M. Nasir. Hal kedua yang juga dikembangkan oleh Iran adalah teknologi microchip yang belum pernah dilakukan Indonesia. “Padahal Indonesia membutuhkan chip untuk smart card dalam setahun hingga 50 juta. Sehingga setiap tahunnya dibutuhkan biaya untuk smart card ini hingga sekitar 7,5 triliun rupiah. Sangat mahal,” demikian diungkapkan M. Nasir.

Peranan Pemerintah sebagai Kuncinya

Untuk mewujudkan obsesi memiliki Silicon Valey, M. Nasir menyadari benar bahwa pemerintah memiliki peranan yang sangat penting di dalamnya. “Pemerintah harus dapat berperan untuk memediasi antara researcher dan business,” demikian M.Nasir berujar dengan menyadari benar bahwa researcher dan perguruan tinggi akan membutuhkan para pengusaha untuk memberikan dukungan dana dan begitu pula sebaliknya. Apa jadinya bisnis tanpa adanya riset? Di sinilah diperlukan peranan pemerintah untuk mempertemukan keduanya dengan menyiapkan fasilitas dan regulasinya. Ada dua yang dicontohkan M. Nasir untuk dapat dilakukan pemerintah. Pertama, regulasi yang terkait masalah tax, misalnya saja jika memungkinkan diberlakukan free tax kepada produsen hingga beberapa lama sampai tercapai bisnis yang visible atau jika telah mencapai BEP. Kedua, mengenai hak paten. Bagaimana inventor juga dapat memperoleh bagian dari royalty. Bagi para peneliti, hal ini penting. Kedua hal ini merupakan contoh yang saat ini sedang dibicarakan dengan kementerian keuangan.

Memang bukan hal yang mudah untuk mengintegrasian researcherbusiness, dan government menjadi satu kesatuan.  Kalau hal ini dapat dilakukan maka akan mendorong industri untuk makin baik.

“Inilah tugas utama pemerintah. Pertama, bagian yang menurut saya luar biasa berat dan harus dilakukan adalah menyatukan semua pengusaha, pemerintah, dan perguruan tinggi untuk berkesinambungan,” demikian M. Nasir menyadari benar tanggung jawabnya.

Bilamana Menghadapi Hambatan

Bukan tanpa alasan, menristekdikti mengatakan bahwa tidak mudah merealisasikan 100 technopark sebab berbagai hambatan sudah dapat teridentifikasi.

“Pertama adalah masalah pendanaan yang telah menjadi masalah yang klasik. Kedua adalah masalah managerial, pengelolaan,” demikian dikatakan M. Nasir.

Hal yang terjadi selama ini bahwa tidak adanya kordinasi antar perguruan tinggi dalam melakukan riset sehingga sering kali riset yang sama dilakukan oleh beberapa perguruan tinggi sekaligus sehingga terjadi redundancy termasuk dalam hal pendanaan. Sehingga ke depannya, setiap perguruan tinggi akan mendapatkan assignment dalam melakukan riset dan dilakukan berdasarkan market driven atau dipicu oleh pasar.

“Jika kita mempunyai 100 technopark pada tahun 2017 maka pada tahun 2018 akan sudah mulai berproduksi dan menghasilkan riset. Ini mimpi besar saya bersama tugas yang diberikan oleh pak presiden kepada saya,” demikian paparan menristekdikti.

Back to Jelang Reformasi TeknologiCover Menristekdikti - SA

Ruth Berliana/VMN/BL/Managing Partner Human Capital Development

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.