(Business Lounge – Empower People) Dalam sebuah program perusahaan, pemberian bonus, kenaikan gaji atau outing tahunan dianggap sebagai faktor penentu pengikat karyawan untuk tetap bertahan di dalam sebuah perusahaan. Beberapa profesional muda masih sangat terpikat dengan training-training yang diberikan perusahaan sehingga beberapa profesional muda memilih tetap berada di sebuah perusahaan dan belum tertarik pindah ke perusahaan lain, apalagi training yang diberikan berada di luar kota bahkan di luar negeri, hal itu akan menjadi daya tarik tersendiri.

Dengan meningkatnya biaya pelatihan atau biaya pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi secara tajam maka bagi para profesional muda, pelatihan yang diberikan perusahaan merupakan daya tarik tersendiri. Karena itu pelatihan merupakan investasi yang efektif di dalam mempertahakan para profesional muda. Berinvestasilah pada training, hal tersebut dapat juga menjadi cara untuk mempertahankan top talent. Melakukan training yang bekesinambungan akan terasa hasilnya bagi perusahaan sebab para profesional muda pasti akan meningkat dalam kinerja dan berdampak bagi kemajuan perusahaan.

Tidak selalu training yang diberikan harus mahal tetapi yang penting dapat dilakukan sesuai dengan kebutuhan karyawan dalam pengembangan bisnis perusahaan. Jangan terjebak dengan program yang ‘super’ atau yang sedang tren yang belum tentu sesuai dengan main bisnis perusahaan. Bila training yang dilakukan hanya mengikuti tren yang ada, bisa saja berdampak hanya membuang uang dan tidak bermanfaat bagi perusahaan. Jadi kenalilah dulu kebutuhan perusahaan barulah diberikan training yang sesuai dengan kebutuhan karyawan yang mendukung bisnis perusahaan.

Salah satu kondisi yang dapat dijadikan sebuah contoh, banyaknya karyawan pada sebuah perusahaan yang tidak perduli dengan unit bisnis lain sehingga proses kerja kedua unit tersebut tidak berkesinambungan yang kemudian berdampak pada proses kerja yang terganggu. Hal ini tidak dapat dianggap sepele sebab dapat berdampak pada main bisnis perusahaan. Misalnya bagian marketing dari sebuah perusahaan property yang terlambat melengkapi dokumen perjanjian kemudian akan berdampak pada keterlambatan bagian finance melakukan penagihan dilanjutkan timbulnya efek keterlambatan pembukuan pada pagian akunting sehingga pelaporan bulan tersebut bisa saja dianggap defisit karena pengeluaran biaya operasional perusahan lebih tinggi dari biaya pemasukan. Padahal seharusnya hal tersebut tidak perlu terjadi jika tiap bagian menyadari bahwa tiap bagian memiliki keterkaitan. Dengan itu maka dapat diadakan training pengenalan marketing untuk bagian finance atau pelatihan finance for non finance, atau HR for non HR. Pelatihan tersebut berguna untuk memperkenalkan tugas-tugas yang ada pada unit bagian lain. Dari proses ini  maka satu dengan yang lain akan belajar ‘berempati’ sehingga komunikasi dan koordinasi akan berjalan lebih baik.

Melakukan training tidak selalu memanggil tenaga pengajar dari luar tetapi dapat juga sesekali menggunakan tenaga internal. Tenaga senior internal pastilah akan lebih mengetahui hal-hal yang lebih berkaitan dengan bisnis perusahaan pada lingkungan kerja sehingga pengaplikasiannya pun akan lebih nyata di dunia kerja sehari-hari.

Pelatihan yang dilakukan dapat berupa pelatihan yang berhubungan dengan main bisnis perusahaan sehingga karyawan merasa dilibatkan dalam bisnis perusahaan dan dapat menggali potensi yang dimiliki setiap karyawan. Berikan kesempatan secara bergiliran tiap karyawan mengikuti pelatihan sambil mencari talent-talent yang dapat dikembangkan, dengan begitu karyawan akan merasa diberikan kesempatan untuk berkembang. Hal tersebut dapat memberikan dampak positif bagi karyawan, yaitu adanya sikap loyalitas.

Perlu diperhatikan juga agar training tidak “membunuh” produktivitas bekerja, karena itu dibutuhkan pengaturan waktu yang baik . Misalnya saja training memiliki durasi 2 hari tetapi dibagi menjadi masing-masing 4 jam. Namun dapat juga dilangsungkan dalam 1 hari atau 8 jam. Misalnya bagi bagian Finance dan Accounting, pelatihan yang diberikan tidak diadakan pada akhir bulan saat tutup buku berlangsung.

Demikianlah waktu pelatihan dan jumlah peserta harus diatur sebaik-baiknya supaya lebih efektif. Peserta pelatihan janganlah melibatkan semua karyawan dengan bagian yang sama tetapi dapat dilakukan secara bertahap dan bergilir sehingga operasional perusahaan dapat tetap berjalan.

Sonya C/VMN/BL/Contributor
Editor: Ruth Berliana

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.