Prof. Dr. Bambang P S Brodjonegoro: Nawa Cita dan Strategi Anggaran

Bambang Brodjo

(Business Lounge – Achievement)

Businesslounge.co Vibiz Media Network berkesempatan menyambangi Bambang Brodjonegoro di tempat kerjanya dan berbincang tentang 9 program yang dicanangkan Presiden Terpilih Jokowi yang dikenal dengan Nawa Cita.

Yang Terpenting dari Nawa Cita

Bagi Bambang, dari sembilan program Nawa Cita tersebut bila dikaitkan dengan 5 tahun mendatang maka yang terpenting adalah bagaimana Indonesia dapat memiliki kemandirian ekonomi yang kuat. Ini bukan hanya sekedar menutup kemandirian ekonomi Indonesia dari luar, tetapi yang terpenting adalah bagaimana menjadikan perekonomian Indonesia itu kompetitif.

Dilihat dari sisi geografisnya yang besar, jumlah penduduk yang banyak serta besaran PDB-nya, maka faktor-faktor tersebut telah membuat Indonesia menjadi negara yang besar dengan perekonomian yang kompleks. Maka hal yang yang terbaik untuk dilakukan adalah menata kembali perekonomian Indonesia dari bawah, demikian pemaparan Wakil Menteri Keuangan ini.

Lebih rinci ia menguraikan bahwa yang dimaksud dengan dari bawah adalah memberbaiki perekonomian pedesaan, kabupaten, kota hingga suatu saat kita dapat melihat bahwa perekonomian Indonesia digerakkan oleh perekonomian yang berasal dari bawah tersebut. “Tidak semata-mata pendekatan yang top down, dari pemerintah pusat yang memberikan dorongan, tetapi lebih mendorong inisiatif dari bawah,” ujar Bambang.

Oleh karena itulah sangat penting dalam 5 tahun ke depan ini untuk mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang dapat membuat pemerintahan desa, kabupaten, kota hingga propinsi tergerak untuk mencari strategi ekonomi yang paling cocok guna memperkuat ekonomi daerahnya. Hal inilah yang dirasa Bambang sangat penting selama implementasi otonomi daerah. Perlu digarisbawahi bahwa kebijakan pemerintah pusat harus diimbangi dengan inisiatif dari daerah. Sehingga di dalam melaksanakan Nawa Cita sangat penting memperhatikan pembangunan dari bawah.

Perekonomian Indonesia Tidak Terlepas dari Perekonomian Global

Ketika berbincang dengan Bambang, maka ada satu hal yang muncul di benak businesslounge.co Vibiz Media Network yaitu bagaimana menumbuhkan perekonomian Indonesia di tengah-tengah pelemahan ekonomi global. Maka dengan gamblang “Pak Wamen”, demikian ia biasa disapa di lingkungan kerjanya, menjelaskan bahwa memang situasi perekonomian dunia belumlah stabil. Sebut saja Tiongkok, negara dengan pertumbuhan perekonomian paling besar di dunia, kini mengalami perlambatan pertumbuhan. Belum lagi Eropa yang perekonomiannya berpotensi untuk mengalami kontraksi, serta Jepang yang struggling untuk menciptakan inflasi sekaligus pertumbuhan, sehingga terlihat jelaslah bahwa sumber-sumber perekonomian dunia ini sedang mengalami perlemahan.

Kondisi ekonomi Indonesia jelas tidak bisa lepas dari kondisi ekonomi global, maka selama pertumbuhan ekonomi global belum menjanjikan, commodity price booming juga tidak ada maka yang terpenting adalah bagaimana menstabilkan perekonomian, yaitu dengan menjaga devisit transaksi berjalan untuk tidak melebar dan dapat dipertahankan pada 2,5 – 3,5% dari PDB. Selain itu juga menjaga supaya tidak ada laju pertumbuhan import yang terlalu berat dibebankan pada perekonomian Indonesia.

Oleh karena tujuannya untuk untuk menstabilkan perekonomian maka wajar jika pertumbuhan perekonomian kita tidak terlalu tinggi pada tahun ini. Jika saja dapat mencapai 5,2 % – 5,3 % saja itu sudah merupakan angka yang baik. Bambang pun melanjutkan bahwa pertumbuhan perekonomian global tahun 2015 diperkirakan akan lebih baik, maka diharapkan perekonomian Ekonomi Indonesia dapat tumbuh di atas 5,5%.

Anggaran Melaksanakan Nawa Cita

Kembali tentang Nawa Cita, maka tentu saja pelaksanaannya haruslah dituangkan di dalam anggaran. Bagaimana mensiasatinya agar tidak menimbulkan beban anggaran yang besar? Bambang Brodjonegoro pun menyinggung tentang subsidi pemerintah yang pada prinsipnya akan digunakan sebanyak-banyaknya untuk kesejahteraan rakyat. Dalam pandangannya, Bambang mengatakan bahwa pemerintah haruslah mengubah subsidi apa pun di Indonesia ini dari subsidi yang sifatnya harga, menjadi subsidi yang suidatnya orang. Sehingga bukan saja subsidi hanya untuk menutup selisih antara harga jual dan harga produksi tetapi menjadi subsidi yang diarahkan kepada kelompok yang membutuhkan. Tidak semua orang Indonesia membutuhkan bantuan pemerintah.

Dengan paradigma yang demikian maka subsidi BBM untuk 2015 yang besarnya di atas 250 triliun rupiah, itu akan dapat dihemat. Penghematannya itulah yang harus direalokasikan untuk dua hal: pertama, belanja yang sifatnya produktif termasuk program Nawa Cita yang telah dicanangkan, kedua, pemberian bantuan pemerintah langsung kepada yang membutuhkan. Tentu saja perlu dibuatkan mekanisme bantuan dan dialokasikan anggarannya. Tidak semua dapat langsung direalisasikan pada tahun pertama, tetapi harus dibagi pada tahun-tahun selanjutnya.

Dengan optimis, Bambang mengatakan jika hal ini dapat dilakukan dalam 2 tahun ke depan, maka perekonomian Indonesia akan menjadi sehat dan lebih baik. Bambang yakin dengan mengubah subsidi harga menjadi subsidi orang maka masih terdapat banyak ruang untuk menjalankan program-program pemerintahan yang baru nantinya.

Aspek Penting Dalam Pelaksanaan

Ada beberapa hal penting yang Bambang sebutkan sangat menentukan pelaksanaan hal-hal tersebut:

  1. Adanya dukungan dari semua pihak mengenai perubahan mindset bahwa subsidi adalah untuk orang bukan barang. Ini adalah yang utama. Hal ini bersifat konseptual.
  2. Bagaimana menciptakan sistem bantuan langsung tersebut. Hal ini bersifat teknis, harus penuh dengan kehati-hatian sebab tidak dapat memberikan bantuan kepada orang yang salah.

Pajak Sebagai Sumber Revenue

Ada 2 hal yang perlu diperhatikan terkait dengan pajak:

  1. Pertumbuhan pajak secara alamiah berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi. Sehingga penting untuk terjadi pertumbuhan ekonomi terlebih dahulu.
  2. Fokus kepada tingkat kepatuhan pembayaran pajak. Sampai hari ini hal ini masih dapat dieksplor lebih dalam lagi. Dengan adanya penguatan pada law enforcement dalam penarikan pajak, kerjasama dengan negara-negara lain untuk meminimalkan tax haven maka akan meningkatkan kepatuhan pembayaran pajak baik individu maupun perusahaan.

 

ruth_revisiRuth Berliana
Editor in Chief businesslounge.co

Leave a Reply

Your email address will not be published.