(Business Lounge – News) Para separatis pro-Rusia mulai membatasi tim pengamat internasional untuk bisa mengakses puing-puing pesawat Malaysia Airlines. Seperti dilansir oleh BBC, seorang juru bicara OSCE mengatakan bahwa akses ke lokasi jatuhnya pesawat telah dikuasai oleh orang-orang bersenjata dengan terdengarnya sebuah suara tembakan ke udara.

Pesawat Malaysia Airlines telah jatuh pada Kamis malam (17/7) akibat hantaman sebuah rudal yang ditembakkan dari wilayah yang dikuasai pemberontak di Ukraina timur. Akibatnya semua penumpang dan awak kapalnya tewas seketika. Pesawat Boeing 777 itu terbang dari Amsterdam ke Kuala Lumpur dan jatuh di antara Krasni Luch di wilayah Luhansk dan Shakhtarsk di wilayah tetangga Donetsk.

Pembatasan Akses

Michael Bociurkiw, anggota tim OSCE, mengatakan akses mereka telah dibatasi meskipun komandan pemberontak telah menjamin bahwa mereka akan diizinkan masuk ke lokasi jatuhnya pesawat. Salah seorang penjaga bersenjata terlihat mabuk sambil menembakkan senapannya ke udara.

Terdapat 25 pemantau yang mengundurkan diri setelah lebih dari satu jam berada di lokasi namun tetap tidak dapat mendirikan sebuah koridor akses untuk tim spesialis guna menyelidiki kecelakaan ini. Thomas Greminger, ketua dewan permanen OSCE untuk Swiss, mengatakan kepada BBC mereka akan terus bekerja untuk melihat bahwa penyelidikan internasional dapat tetap berlangsung.

Dewan Keamanan PBB pun terus menyerukan supaya tetap diadakan penyelidikan internasional yang penuh dan independen atas apa yang terjadi pada pesawat.

Reaksi Dunia

Pada hari Jumat, Presiden AS Barack Obama mengatakan bahwa bukti yang ada menunjukkan bahwa pesawat, yang terbang dari Amsterdam ke Kuala Lumpur itu telah ditembak jatuh oleh rudal yang diluncurkan dari daerah yang dikuasai pemberontak di Ukraina timur. Ia menggambarkan reaksinya sebagai sebuah kemarahan yang tak terkatakan dan kebenaran harus dinyatakan. Obama mengatakan terserah kepada Rusia apakah ia akan menghentikan aliran senjata beratnya kepada pejuangnya di Ukraina.

Yuriy Sergeyev, duta Ukraina untuk PBB, mengatakan bahwa serangan itu tidak akan mungkin terjadi jika Rusia tidak memberikan sistem rudal anti-pesawat canggih untuk pemberontak. Tapi Rusia membantah bahwa mereka mendukung separatis bahkan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menolak klaim bahwa Rusia itu terkait dengan serangan rudal tersebut.

Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan kecelakaan itu merupakan “tragedi”. Dia juga menyerukan gencatan senjata serta adanya perundingan damai, namun demikian tetap terdengar adanya bentrokan pada hari Jumat (18/7) pada lokasi berjarak kurang dari 100km (60 mil) dari lokasi kecelakaan.

uthe/Journalist/VMN/BL
Image : Youtube

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.